Keesokan pagi ketika ingin berangkat kerja, Alisha terkejut melihat ibunya yang sedang menyiram tanaman di samping halaman rumahnya. Halaman rumah mereka dibatasi oleh pagar besi yang bisa melihat pekarangan rumah masing-masing. Alisha melangkah mundur untuk memastikan apa yang ia lihat.
“Mama? Nggak kerja? Ini udah jam satu siang loh. Biasanya udah ngacir kemana tahu.” tanyanya.
Ika tersenyum, “Hehe, mama lagi nggak ada kerjaan?”
“Serius? Aneh,” tutur Alisha tak percaya, karena buru-buru dia akhirnya hanya memberi salam sebelum berangkat, “Aku berangkat dulu deh.”
“Ya, hati-hati,” ucap Ika.
***
Di dalam mobil Alisha hanya terdiam tanpa berkata apa-apa, dia lalu kembali menoleh ke belakang melihat ibunya yang sedang asik bercocok tanam. Alisnya mengerut dengan ekspresi bingung, namun dia mengabaikan hal itu karena masih banyak yang harus ia lakukan hari ini.
“Ya. Alisha. 1.2.3.” Klik…Klik…Klik, suara dan cahaya kamera terus mengikuti kemana arah tubuh Alisha bergerak.
Pemotretan kali ini adalah untuk salah satu iklan Brand Handphone ternama yang mendapuknya sebagai Brand Ambassador produk tersebut. Setiap kali jadi bintang iklan ponsel, Alisha senang karena dia tidak perlu repot-repot membeli ponsel keluaran terbaru. Ponsel tersebut pasti diberikan oleh pihak penyelenggara untuknya.
“Alisha menghadap ke kanan ya, yok. 1.2.3.” Klik Klik.
Setelah dua jam melakukan pemotretan, Alisha beristirahat sejenak untuk melepas penat dan juga pakaian yang ia pakai. Pekerjaannya telah selesai, sekarang dia harus pergi lagi untuk rapat dengan beberapa timnya mengenai perilisan albumnya yang tertunda.
Dia berlari cepat ke ruang rapat untuk menghadiri pertemuan tersebut, “Halo semuanya,” sapa Alisha dengan ramah dan ceria.
Dia kemudian duduk di tempat yang sudah disiapkan, semua orang terlihat sudah siap untuk memaparkan apa yang mereka kerjakan. Satu per satu dari mereka menjelaskan rencana kapan album baru Alisha akan dirilis. Karena masalah skandal kemarin, jadwal perilisan tertunda dan membuat banyak pemodal ragu bahkan pergi dari proyek ini. Tapi apapun yang terjadi album ini harus rilis sudah banyak tenaga dan juga biaya yang dikeluarkan, tidak mungkin album ini dibatalkan begitu saja,
Setelah mendengarkan semua pemaparan, kini Alisha bisa mengungkapkan pendapatnya, “Saya suka dengan semua konsep yang kalian paparkan, semuanya matang dan sangat menarik,” Alisha lalu terdiam menundukkan wajahnya, “Di kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada kalian semua yang telah bekerja keras selama beberapa bulan terakhir ini untuk bisa mewujudkan impian saya. Saya sangat berterima kasih atas hal itu, saya janji saya akan bekerja keras dan akan berusaha memenuhi harapan kalian semua.”
Semua orang terdiam mendengarkan ucapan Alisha, walaupun kecewa dan lelah namun ucapan Alisha mampu membuat hati mereka semua luluh dan tenang. Setelah selesai acara Alisha keluar ruangan dan tiba-tiba dia bertemu dengan Alex yang memang ia kenal sudah lama.
“Alisha, makin cantik saja kamu,” ujarnya menyapa.
“Pak Alex, udah lama nggak ketemu. Apa kabar?”
“Baik Alisha,” lalu tiba-tiba ponsel Alex berdering, dia meminta Alisha untuk menunggu sembari dia mengangkat panggilan telepon tersebut, “Ya, Halo Pak. Sudah pak, saya sudah bicara pada Ika kemarin. Saya sudah menyampaikan semuanya kalau perusahaan kita tidak mampu untuk menaunginya lagi. Ya, dia agak marah tapi bisa saya atasi. Semuanya sudah selesai dan dia mulai bulan depan tidak akan menjadi artis di bawah perusahaan lagi.”
Alisha yang mendengarkan sontak terkejut, jadi itu alasan ibunya tidak bekerja pagi ini. Pantas saja.
Alex melanjutkan pembicaraannya, “Tenang saja Pak, semua sudah clear. Ok, terima kasih Pak. Sampai bertemu kembali,” tuturnya sebelum mematikan panggilan. Dia kemudian menatap Alisha, “Sha, kalau mau pindah agency saya terima loh ya, jangan sungkan untuk hubungi saya.”
Ucapannya membuat Alisha tertegun beberapa saat, namun dia hanya tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa.
***
Ika yang sedang menikmati hari tenangnya kini sedang memasak sebuah hidangan yang sudah lama tidak ia sajikan. Dulu saat Alisha masih kecil, dia sering membuatkan itu untuk sang anak tapi ketika dia mulai sibuk dia jadi jarang untuk masuk ke dapurnya sendiri. Menyiangi sayuran dan menyiapkan tempe, hidangan Ika kali ini adalah khas dari Jawa Timur yaitu tempe penyet. Bau sambal dan terasi yang semerbak sungguh menggugah selera.
Saat sedang asik memasak tiba-tiba saja ponselnya berdering, Risma ternyata yang menghubunginya, “Halo Ma, ada apa? Ika lagi masak nih.”