Siang hari, di gedung manajemen, ada seseorang yang memanggil nama, “Alisha,” dengan suara yang sudah sangat dia kenal.
Fadli datang membawa dua kotak sandwich untuk dimakan oleh mereka berdua.
Alisha memicingkan mata melihatnya, “Tumben lo ngasih gue makanan?”
Fadli menggaruk kepalanya salah tingkah, “Ada yang ngasih tadi dari kru, oh iya. Gue baru dapet proyek besar, film. Nanti lo gue traktir ya,” ucapnya.
Alisha mengangguk, “Hmm,” jawabnya dingin.
Fadli memandangi wajah Alisha dengan seksama, beberapa saat dia memandang semakin dia lihat wajah Alisha makin menggemaskan untuknya. Dicubitnya wajah perempuan itu dengan gemas, “Kok kurusan sih, pipinya nggak tembem lagi.”
“Aduh, apaan sih, rese banget.” protes Alisha.
Fadli tertawa kecil, “Lucu banget sih,” ucapnya lagi sambil mengusap kepala Alisha membuat rambutnya jadi berantakan. Alisha kesal lalu mengejar Fadli yang lari, dan mereka seketika jadi kejar-kejaran seperti anak kecil.
Kebetulan sekali ternyata Juna melihat itu semua, dia yang sedang berjalan ingin menemui Alisha terkejut dan langsung bersembunyi saat tahu pacarnya sedang bergurau dengan pria lain. Hatinya terasa sakit dan seperti tercabik-cabik, Fadli jelas menyukai Alisha dan wanitanya itu sedang goyah.
***
Pulang ke rumah tidak terlalu malam, Alisha dikejutkan dengan ibunya yang sudah berada di ruang tamunya membawa bolu pisang.
“Akhirnya pulang juga,” ungkap Ika, “Nih mama habis bikin bolu pisang, cobain,” tuturnya dengan mata berbinar.
Alisha tersenyum canggung, dia kemudian memakan satu potong bolu pisang tersebut.
“Enak nggak? Enak kan?”
Alisha mengangguk, “Enak,” tuturnya lemah.
“Yes,” ujar Ika senang, “Makan lagi ya makan yang banyak, mama taro sini ya buat kamu.”
“Nggak usah Ma, nggak usah. Buat mama aja.”
“Nggak apa-apa biar kamu ada cemilan, di kulkas juga udah ada ayam bumbu sama rendang, tinggal kamu panasin.”
Alisha mendesah lelah, “Mama ngapain sih masak?”
“Emang kenapa? Karena mama lagi nggak ada kerjaan, jadi mama masak aja.”
“Kenapa mama nggak ada kerjaan coba? Biasanya juga sibuk banget. Udah mama kerja aja lah nggak usah masak, kan ada Bi Isnah yang masak.”
Seketika Ika jadi sedih dan murung, “Kenapa sih emang? Enak kan masakannya?”
“Nggak, nggak enak Ma. Mama nggak bisa masak, itu kue manis banget kayak makan permen. Itu pasti ayam sama rendangnya kalau nggak kurang rasa pasti keasinan.”
Ika yang tadinya duduk sontak berdiri, “Kamu jahat banget sih, mama capek-capek masakin buat kamu bukannya dihargai. Dah lah, mama bawa lagi aja, ngeselin banget. Lagi kenapa sih kamu, lagi PMS apa? Rese.”
Alisha yang tadinya kesal jadi tidak enak hati, dia bicara lantang, “Aku tahu mama dikeluarkan dari agensi.”
Ika terdiam mendengarnya, dia lalu berbalik arah menghadap sang anak.
“Mama kebiasaan nggak pernah mau cerita sama aku. Seakan semua baik-baik saja, seakan mama kuat. Jangan begitu Ma, yang ada mama sakit nanti. Mama ingat kan, mama pernah sesak napas dan dilarikan ke IGD. Ternyata itu karena mama lagi banyak pikiran, tensi mama tinggi karena mikirin gimana bayar cicilan dan sekolah aku.”