LOVE, FAMILY, LAUGHTER

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #17

KEDEWASAAN

Sore itu Alisha dan Fadli memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, mereka pergi ke Gelora Bung Karno untuk nongkrong di sana. Kebetulan rumah Alisha tidak terlalu jauh dari tempat olahraga masyarakat Indonesia tersebut. Dengan memakai masker dan topi, berlari tipis, mereka berdua berdampingan menyesuaikan irama ayunan kaki. Mereka terlihat begitu bahagia dan serasi. Sampai dua putaran Alisha akhirnya selesai dan duduk di pinggir jalur olahraga, dia memang bukan orang yang tergila-gila olahraga, olahraga untuknya hanya sekedar untuk mencari kesehatan. Fadli yang iseng kemudian mengacak-ngacak rambut Alisha hingga dia kesal dan mengejar pria tersebut.

Tak berselang lama, Fadli datang dan memberikan sebotol air, “Huft, lumayan rame juga hari ini.”

“Iya, mungkin karena hari ini akhir pekan.”

Fadli menghela napas beberapa saat, “Kita harus bicara sama Juna.”

Alisha sontak menelan ludahnya gugup, “Ya, kita harus selesaikan ini,” tuturnya dengan nada serius.

Fadli kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Alisha yang masih terduduk. Alisha tersenyum meraih tangan tersebut dan menggenggamnya hangat. Mereka melanjutkan jalan di malam romantis itu dengan tangan yang bergandengan, untungnya tidak ada yang sadar siapa mereka di tempat itu.

***

Sampai di depan rumahnya, Fadli buru-buru keluar dari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk wanita tercintanya. Setelah Alisha keluar, kebetulan sekali pintu pagar rumah ibunya juga terbuka. Munculah Ika bersama kedua orang tuanya keluar karena Wandi dan Risma sudah ingin pulang dan supir mereka sudah menunggu sedari tadi. Mata Ika dan kedua orang tuanya terbelalak melihat Alisha dan Fadli yang sedang berpelukan.

Wandi terkejut bukan main, cucunya berpelukan dengan pria. Dan sepertinya pria itu berbeda dengan pria yang ada di media waktu itu, “ALISHA!” teriak Wandi yang sontak membuat Fadli dan Alisha melepaskan pelukannya.

Risma dan Ika yang melihat itu semua jadi bingung, mereka akhirnya bekerja sama untuk membuat Wandi masuk ke dalam mobil.

“Siapa lagi lelaki itu?” tanya Wandi keras.

Buru-buru Risma dan Ika mendorong tubuh Wandi untuk masuk ke dalam mobil walau pria paruh baya itu melawan. Tenaga Ika dan ibunya ternyata mampu membuat Wandi menyerah dan hanya bisa protes.

“Ika, didik anak kamu yang benar ya. Masa ganti-ganti pria begitu, hati-hati kamu Ika,” protes Wandi.

Sebelum protes itu menjadi lebih besar dan melebar sang sopir dengan cepat membawa pasangan serasi itu pergi. Membuat Ika bisa bernapas lega.

Ika kemudian menatap anaknya datar dan menghampiri mereka berdua, “Jadi kalian sudah pacaran?”

Alisha tersenyum, “Iya.”

“Hehe, ternyata jadi juga Tan,” sahut Fadli.

Ika kemudian menghampiri Fadli, dia meraih keras baju lelaki itu, “Heh, anak muda. Jangan sekali-kali kamu menyakiti anak saya ya, akan saya bikin kamu menyesal kalau melakukan itu.”

“I..iya Tante,” jawab Fadli jiper, Alisha di sampingnya hanya tersenyum.

“Jaga anak saya, ngerti?”

“Hehe, tenang Tante, Aman. Percaya sama saya.”

Mendengarnya Ika mengangguk. Dia melepaskan cengkraman tangannya dan mulai merangkul sang anak, “Kamu boleh pergi, saya ambil Alisha,” ucapnya sambil meninggalkan Fadli sendirian.

Sampai di pekarangan rumah, tawa Alisha pecah, “Hahahaha, Mama ada-ada aja deh. Muka Fadli sampai pucat begitu.”

Ika tersenyum, “Biarin, biar dia nggak macem-macem sama kamu,” ujarnya. Ika kemudian menatap sang anak, “Itu berarti kamu sudah menentukan pilihanmu kan?”

Lihat selengkapnya