Pagi hari, di kediaman Wandi, Risma sudah sibuk menata semua perabotan rumahnya dengan rapi. Semua lemari dibersihkan, kulkas dan kompor semua dibuat berkilau. Meja dan kursi ditata kembali dari posisi lama ke posisi baru, hingga piring dan gelas semua dibersihkan.
Wandi yang melihatnya jadi penasaran, sambil membaca koran dia berkata, “Memangnya siapa yang mau datang?”
“Hah?” jawab Risma.
Wandi kemudian menutup korannya, “Siapa yang mau datang kemari, sampai kamu rajin bersih-bersih begitu?”
“Nggak ada,” jawab Risma.
“Terus?” kembali Wandi bertanya.
“Memangnya ada yang salah kalau saya beres-beres rumah?”
Wandi memicingkan matanya, “Ada yang salah? Kamu tidak biasanya seperti ini.”
“Nggak ada apa-apa, semua baik-baik saja, semua normal. Tidak ada masalah, tidak ada kehebohan dan tidak ada telepon.”
“Oh, maksud kamu Ika.”
“Saya nggak tahu bagaimana caranya untuk bicara sama dia,” tutur Risma kesal, matanya gusar dan sedikit berkaca-kaca.”
“Saya juga penasaran, apa yang kalian bicarakan di rumah sakit?”
“Saya menyuruhnya untuk mencari pelaku yang meracuni anakya dan meminta dia untuk mengakui Alisha sebagai anaknya, tapi anakmu malah menyuruh saya untuk jangan ikut campur.”
“Sayang,” tutur Wandi sembari merangkul istrinya dan membawanya duduk, “Ika punya kehidupan sendiri, kamu kemarin marah sama saya karena saya ikut campur soal pendidikan Alisha, nah sekarang kenapa kamu juga ikut-ikutan?” Risma termenung mendengar pertanyaan itu, “Lebih baik kita menunggu. Ika tidak mungkin diam saja soal masalah ini.”
“Saya hanya ingin membantunya, sudah saatnya semua orang tahu siapa mereka.”
“Saya ngerti, saya paham sekali maksud kamu. Tapi mereka punya pendapatnya sendiri soal ini, biarkan mereka yang mengambil keputusan,” ucap Wandi yang seketika membuat Risma menjadi tenang dan berpikir lebih jauh.
Risma mengangguk dan tersenyum tipis pada suaminya.
***
Hari ini kebetulan Ika harus pergi ke daerah Sumatra Barat untuk syuting salah satu film barunya yang akan dijadwalkan tayang tahun depan. Dia sebenarnya tidak enak meninggalkan Alisha sendirian tapi anak itu mengerti dan meyakinkan Ika untuk ambil proyek ini. Keadaannya juga sudah pulih seperti biasa, jadi paling tidak Ika bisa lega. Ketika memasuki pintu pesawat, Ika berpapasan dengan Adi. Mereka saling bertukar pandang tanpa bicara, Adi kemudian terlebih dahulu masuk menuju kursinya.
Ika memang tahu kalau sutradara mereka kali ini akan kembali diambil alih oleh Adi, ini proyek ke empat Ika bersama pria itu. Pria yang ternyata menginginkannya dan melamarnya kemarin. Dia ingat kalau pembicaraan mereka belum selesai lalu terjadilah musibah Alisha yang mengambil semua fokusnya. Duduk di kursinya dengan nyaman, Ika tertidur bersama Mira yang ada di sampingnya.
Sesampainya di Bukittinggi, Ika bersama dengan yang lain masuk ke dalam penginapan yang berada di dekat perumahan adat di sana. Penginapannya memang tidak mewah tapi cukup nyaman dan aman. Saat ingin memasuki kamar, Ika menoleh pada Adi yang juga memasuki kamarnya. Mereka bertukar pandang beberapa saat sebelum masuk ke kamar mereka masing-masing.
***
Berita mengenai Ika dan Alisha di media sosial semakin hari semakin ramai dan meluas ke mana-mana, banyak pernyataan atau komentar yang menggiring opini membuat Alisha mengelus dada. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena keputusan ini murni milik ibunya dan dia menghargai itu.
Meletakkan ponselnya ke atas meja, dia yang kini sedang berada di sebuah kafe melihat Laura datang membawa beberapa belanjaan dengan wajah sumringah, “Habis borong lo?” tanyanya.
“Biasa lah, udah lama nggak. Oh iya, gimana kabar lo? Serem banget ih kok bisa begitu sih?”