Alisha keluar setelah keributan itu selesai, Juna terkejut saat melihat perempuan itu keluar dari ruangan.
Alisha langsung menghampiri temannya, “Lo nggak apa-apa kan?”
Puput mengangguk, “Gue nggak apa-apa,” jawabnya pada Alisha, dia kemudian melirik ke arah Juna, “Makasih Jun,” tandasnya.
Mereka bertiga kemudian pergi ke ruang kerja Puput alias ruang khusus yang sengaja dibuat memang untuk orang-orang tertentu, salah satunya Alisha dan Juna. Duduklah mereka bertiga dalam satu meja, keadaan canggung dan hening. Hingga tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Alisha, tak lama berselang ponsel Juna pun berbunyi.
Alisha menghela napasnya, “Huft, pesta lagi.”
“Sepertinya kali ini akan besar-besaran,” sambar Juna.
“Pesta apa?” tanya Puput.
“Ada acara ulang tahun tv, dan mereka meminta semua artis yang diundang untuk acara after partynya.”
Puput mengangguk, “Ribet ya jadi artis.”
Juna menaikkan alisnya, “Begitulah kira-kira. Fadli dan ibumu juga sepertinya diundang,” tandas Juna.
Alisha mengangguk, “Ya sudah, kalau gitu gue cabut dulu. Minumannya enak Put,” ucapnya sebelum pergi membuat Puput yang mendengarnya bangga.
***
Di tempat lain, Ika terdiam menatap sinis ke arah Adi, dia bete dan kesal kemarin ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Dia malu, harga dirinya terluka. Dengan memakai kacamata hitam, dia berjalan di depan Adi tanpa menoleh pada pria itu. Syuting sudah selesai dan sekarang saatnya mereka pulang, namun sayang sekali harapan Ika untuk menjalin kembali sebuah hubungan harus kandas begitu saja. Padahal kesempatan ini mungkin tidak akan terjadi dua kali.
Karena kesal, Ika yang mobilnya sudah pergi terlebih dahulu, sengaja menghentikan mobilnya menghadang mobil milik Adi yang sedang melaju. Dia mengetuk kaca mobil dan saat dibuka, dia langsung membuka pintu mobil lelaki itu.
“Kamu jahat, nyebelin, rese.” hardiknya yang membuat Adi terbelalak, matanya melotot seperti ingin keluar.
Ika lalu menutup kencang pintu mobil tersebut hingga berbunyi keras dan melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Adi berdengus tersenyum tak percaya, perempuan itu terkadang kalau marah malah semakin mempesona.
***
Sesampainya di rumah Ika melempar tasnya dan melangkah cepat menuju kamar tempatnya beristirahat. Alisha yang kebetulan melihat itu langsung menemui ibunya, dia membuka pintu dan terkejut melihat ibunya menangis.
“Ma? Kenapa?” tanyanya.
“Mama kesal, bete. Ternyata dia pengecut.”
“Pengecut? Siapa sih?” Alisha jadi penasaran.
“Adi,” jawabnya cepat.
Alisha baru mengerti sekarang, “Ah, mama sudah kasih tahu dia semuanya ya?”
Ika hanya mengangguk sambil terus menangis.
“Kasihan Mama Alisha, sini sini,” tuturnya Alisha lalu memeluk ibunya hangat, “Nggak apa-apa nangis, tapi jangan kelamaan,” ujarnya membuat Ika sedikit tersenyum, namun saat itu dia tetap menangis hingga puas di pelukan anaknya.
Setelah selesai menemani sang ibu, Alisha keluar sambil menerima telepon dari seseorang.
“Iya aku juga dapet nih, kamu mau pakai rancangan siapa?” tanya Alisha.
“Kayaknya pengen pakai perancang lokal sih, tapi lihat nanti lah. Kamu lagi apa?” tanya Fadli.
“Habis nemenin mama ini tadi pulang tiba-tiba nangis.”
“Loh kenapa?”
“Gatau lah, masalah kerjaan kayaknya,” dalih Alisha yang tidak ingin Fadli tahu lebih jauh.