“Kamu sudah tidak waras. Saat kamu hamil di luar nikah, bercerai dan jadi artis, kami semua memahami itu tapi kali ini kamu telah menguji kesabaran saya.”
“Pa,” sela Yudha.
“Kenapa sih kamu harus jadi artis Ika? Kamu tahu itu resikonya sangat besar. Sekarang hanya butuh waktu untuk semua orang tahu siapa ayah dari anak kamu,” sambar Ibu Yudha.
“Kamu seharusnya tidak melahirkan anak itu, kamu menyeret kami semua pada kehancuran,” lagi-lagi ucapan ayah Yudha begitu buruk.
“APA KAMU BILANG?” teriak Wandi yang baru saja sampai bersama dengan istrinya. Dia mendengar dengan jelas apa yang disampaikan mantan besannya itu.
Ika terbelalak melihat mereka semua dan hanya bisa terdiam.
“Dia hamil dan menyeret kita semua,” tandas ayah Yudha, “Kamu tahu berapa kerugian yang saya terima karena masalah ini? Semua orang sudah curiga.”
“Jaga mulut kamu,” jawab Wandi tegas, “Bukan cuma anak saya yang melakukan itu semua, anak kamu yang menghamili anak saya. Kalau saya bisa, saya ingin sekali mencabik-cabik tubuh putramu.”
“Kalau saja Ika memutuskan untuk tidak melahirkan anak itu,” Ibu Yudha menyambar di saat yang tidak tepat.
“Terus maksud kamu apa? Ika harus menggugurkan anaknya? Begitu?” sahut Risma emosi, “Sekalipun, kalian tidak pernah menganggap Alisha sebagai darah daging kalian, kalian tahu apa soal pengorbanan Ika?”
“Harusnya mereka tidak usah menikah sekalian, saya seharusnya tidak menyetujui pernikahan itu. Kamu harus tahu Wandi, saya menyesal melakukan itu semua.”
Wandi yang mendengarnya murka, “SAYA JUGA MENYESAL TELAH MENGENAL KAMU, KAMU ADALAH ORANG PALING PICIK YANG PERNAH SAYA KENAL!” hardiknya.
“Saya akan beritahu media kalau anak kamu yang sudah menggoda anak saya.”
“Berani kamu melakukan itu saya akan laporkan kamu ke polisi atas pencemaran nama baik,” sahut Wandi tidak mau kalah.
Yudha yang melihat itu semua akhirnya turun tangan, ini sudah tidak benar, dia takut ada pertumpahan darah di sini, “STOP, kalian apa-apaan sih?”
Ika yang mulai kesal lalu menghampiri mantan mertuanya, “Saya minta maaf, tapi saya tidak pernah bermaksud menyeret kalian dalam hal apapun yang saya lakukan. Tolong hargai keputusan saya, karena saya punya kewajiban yang harus dilakukan yang tidak akan bisa dilakukan oleh anak kalian. Sekarang, saya minta kalian keluar dari rumah ini!” jelas dan mendalam.
Mereka semua terdiam mendengar itu dan akhirnya Yudha membawa pergi orang tuanya. Kejadian ini sungguh di luar dugaan, pagi yang sangat mencengangkan. Ika menyisir rambutnya yang berantakan penat sedangkan kedua orang tuanya mendesah menenangkan diri.
Alisha kemudian tiba-tiba muncul membuat semua orang terkejut, “Ma, ada tamu?”
Risma menoleh pada anaknya lalu pada Alisha, “Sudah bangun sayang? Nenek bawain cucur kesukaan kamu nih,” sengaja Risma membawa cucunya menjauh dari situ, dia tahu pasti suaminya dan Ika masih sangat emosi.
Ika tersenyum dan berkata, “Terima kasih Pa.”
“Kamu melakukan hal yang benar, kita tidak butuh mereka. Kamu dan Alisha punya kami.”