LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #1

BAB 1 - Telepon Terakhir


"Ada panggilan yang hanya datang sekali seumur hidup. Dan ketika kita mengabaikannya, penyesalan datang jauh lebih lama."


Lapangan Desa

 

Debu beterbangan setiap kali bola menghantam tanah.

 

"WOI! Datang juga calon pemain cadangan!"

 

Suara Dani disambut tawa.

Arga mengangkat kedua tangan.

 

"Maaf. Bangun kesiangan."

"Kau setiap minggu kesiangan."

"Namanya konsisten."


Tawa kembali pecah.

Arga memang begitu.

Di mana ada dirinya, selalu ada orang yang tertawa.


Ia bukan pemain terbaik.

Bukan juga yang paling rajin.

Tapi entah kenapa, semua orang senang berada di dekatnya.

Ia menendang bola.

Meleset jauh.


"Woi! Itu operan ke kambing!"

"Lapangan sebelah, Ga!"


Arga ikut tertawa paling keras.

Seolah hidup tidak pernah punya masalah.

Padahal hanya dirinya yang tahu...

tawa sering kali lebih murah daripada menjelaskan kenyataan.

 

 

Warung Kopi

 

Peluit pertandingan berhenti.

Semua duduk di warung kecil pinggir lapangan.

Es teh.

Kopi hitam.

Gorengan yang tinggal sedikit.

Pembicaraan berubah dari bola menjadi hidup.

 

"Eh, Doni sekarang kerja di pabrik."

"Iya. Gajinya lumayan."

"Si Beni juga sudah diterima jadi sopir ekspedisi."

"Katanya bulan depan mau nikah."

 

Semua mengangguk.

Lalu mata mereka serempak menuju Arga.

 

"Kalau kau kapan?"

 

Arga sedang menggigit tempe goreng.

Ia mengangkat bahu.

 

"Nikah?"

"Bukan."

 "Kerja tetap."

 "Oh..."

 

Ia tersenyum.

 

"Besok."

 

Semua tertawa.

 

"Bulan lalu juga jawabnya besok."

"Tahun lalu juga."

"Kalau besok terus, kapan harinya?"

 

Arga tertawa.

 

"Tunggu saja."

 

Ia memang selalu punya jawaban.

Meski kadang dirinya sendiri tidak percaya pada jawabannya.

 

 

Pasar

 

Menjelang siang.

Matahari mulai menyengat.

Arga mengangkat karung cabai dari bak pikap.

Karung pertama.

Kedua.

Ketiga.

 

Keringat membasahi punggungnya.

Tangannya kasar.

Bahunya merah.

 

"Ga!"

 

Seorang ibu tua kesulitan mengangkat beras.

Arga segera turun.

 

"Biar saya, Buk."

 

Tanpa diminta.

Tanpa berharap dibayar.

Ia mengangkat beras itu sampai ke becak.

 

"Terima kasih ya, Nak."

"Iya, Buk."

 

Pedagang buah tersenyum melihatnya.

 

"Kalau Arga ini sebenarnya rajin."

"Iya."

"Cuma hidupnya belum tahu mau ke mana."

 

Arga mendengar.

Ia hanya tersenyum.

Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.

 

Pinggir Jalan

Pekerjaan selesai.

Lihat selengkapnya