"Rumah tidak pernah benar-benar kosong. Yang hilang adalah suara orang yang biasa menghidupkannya."
Suasana Rumah Arga
Rumah itu tidak pernah seramai ini, dan mungkin tidak akan pernah lagi.
Sandal berjejer sampai ke anak tangga paling bawah, beberapa sudah saling tindih seperti nasib yang tak sempat dirapikan. Dari gapura, suara doa bersahut-sahutan, saling mengejar tapi tak pernah benar-benar bertemu. Di ruang tamu, aroma kopi hitam yang terlalu lama di atas kompor bercampur dengan wangi bunga melati dari keranjang di sudut. Campurannya aneh—pahit, manis, dan pengap. Seperti duka.
Semua orang berbicara pelan. Berbisik. Seolah volume suara bisa membangunkan seseorang yang sebenarnya sudah tidak bisa mendengar apa pun lagi.
Arga duduk di sudut ruangan, di kursi kayu yang biasa diduduki ayah kalau nonton berita jam tujuh. Kakinya tidak menyentuh lantai sepenuhnya. Tatapannya kosong, jatuh ke pola lantai keramik yang retak di ujung. Orang-orang datang bergantian. Menyalami. Memeluk. Menepuk bahunya. Mulut mereka mengucapkan kalimat yang sama, diulang-ulang seperti kaset rusak.
"Sabar ya, Ga."
"Yang kuat."
"Semua akan baik-baik saja."
"Ikhlasin ya..."
Ia mengangguk setiap kali. Bibirnya ikut membentuk senyum kecil yang tidak sampai ke mata. Tapi tidak satu pun kalimat itu benar-benar masuk ke kepalanya. Kalimat-kalimat itu melayang di udara, menabrak tembok, lalu jatuh ke lantai tanpa sempat ia pungut. Kepalanya penuh, tapi kosong. Ramai, tapi sunyi.
Ruang Makan
Menjelang ashar, pelayat mulai pulang satu per satu. Suara motor dan mobil menggantikan suara doa. Rumah perlahan kembali sepi, tapi sepi yang ini berbeda. Sepi yang berat, seperti udara sebelum hujan.
Di atas meja makan kayu jati, tiga piring sudah tersusun rapi. Nasi masih mengepul di magic com. Sayur asem di mangkuk beling. Sambal di cobek kecil. Persis seperti jam makan siang selama 22 tahun terakhir.
Ibu berdiri di ambang pintu dapur. Celemek masih terikat di pinggang. Ia menatap tiga piring itu beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tangannya terulur, ragu, lalu terdiam di udara. Perlahan, jari-jarinya yang mulai keriput mengambil satu piring. Piring seng warna biru yang pinggirnya sudah sedikit penyok. Piring milik ayah.
Tanpa berkata apa-apa, tanpa suara, ia membalik badan dan mengembalikan piring itu ke rak. Klang. Suaranya pelan, tapi memantul ke seluruh isi rumah.
Arga memperhatikan dari kejauhan, dari kusen pintu tengah. Dulu ia tidak pernah sadar. Selama ini, setiap kali pulang, ibunya selalu menyiapkan tiga piring. Tidak pernah dua. Tidak pernah empat. Selalu tiga. Hari ini, untuk pertama kalinya, rumah ini belajar menghitung ulang jumlah penghuninya. Dan jawabannya menyakitkan: dua.
Halaman Rumah
Langit sudah jingga ketika beberapa tetangga masih duduk di kursi plastik depan teras. Asbak dari kaleng biskuit sudah penuh puntung. Pak Mul mengisap rokoknya perlahan, dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke atas seperti ingin mengirim pesan ke langit.
"Aslinya..." katanya lirih, matanya menerawang ke jalan kampung yang mulai sepi. "Ayahmu itu ..."
Kalimatnya berhenti. Menggantung di antara asap rokok dan angin sore.
Dari seberang jalan, seorang tetangga lain memanggil, melambai. "Pak Mul! Sini sebentar!"
Ia menoleh. Mematikan rokok di pinggir asbak. "Lanjut nanti saja, Ga." Ia menepuk lutut, berdiri, lalu berjalan pergi meninggalkan Arga yang masih memandangi punggungnya yang mulai bungkuk.
Lanjut nanti?
Arga menelan ludah. Apa yang sebenarnya belum selesai? Kalimat apa yang ayahnya tinggalkan untuk Pak Mul, tapi tidak sempat untuk anaknya sendiri?
Makam