"Kadang-kadang, warisan terbesar bukanlah harta. Melainkan sebuah permintaan yang terlalu berat untuk diabaikan."
Kamar Arga
Pagi merangkak masuk lewat jendela. Tidak tergesa. Tidak terang. Hanya cukup untuk membuat bayangan meja terlihat di lantai.
Di atas meja itu, amplop cokelat. Diam. Menunggu.
Arga duduk di depannya. Punggung tegak. Napas ditahan. Tangannya menggantung di udara, tidak berani menyentuh. Semalam ia memandangi amplop itu sampai mata perih. Sekarang pagi, dan ia masih belum membukanya.
Ia menarik napas panjang. Udara masuk, dingin, keluar, panas. Jemarinya baru berani menyentuh ujung amplop. Kertasnya kasar. Bekas lipatan lama. Seperti kulit ayah.
Dibukanya perlahan. Selembar kertas. Satu lagi yang lebih kecil. Dan sebuah foto.
Ia tidak langsung membaca. Ia letakkan dulu semuanya di meja. Menatapnya. Seolah benda-benda itu bisa hilang kalau dilihat terlalu cepat.
Kamar Arga
Tulisan ayah. Tegak. Rapi. Tidak ada coretan.
“Maaf karena Ayah tidak sempat menjelaskan semua ini.
Temuilah sahabat Ayah. Jika beliau sudah tiada, temuilah keluarganya.
Jangan buru-buru menilai. Perhatikan bagaimana mereka menjalani hidup.
Suatu hari kau akan mengerti alasan Ayah.
Tidak semua orang yang membesarkanmu adalah orang pertama yang memilikimu."
Itu saja. Tidak ada nama perempuan. Tidak ada kata nikah. Tidak ada kata uang. Tidak ada kata warisan.
Hanya permintaan. Sederhana. Tapi seperti kail yang mengait di dada Arga. Tidak bisa dilepas.
Di bawah surat, ada kertas kecil. Tulisan yang sama.
Kalau kau ingin mengenal seseorang, jangan lihat apa yang ia miliki. Lihat bagaimana keluarganya memperlakukan satu sama lain.
Arga membaca dua kali. Tiga kali. Ia mengernyit. Kalimat itu seperti nasihat biasa. Yang sering ayah ucapkan sambil menyeruput kopi. Tapi kenapa sekarang ditulis? Kenapa diselipkan di sini?
Ia melipat surat itu lagi. Memasukkannya ke amplop. Tangannya tidak gemetar lagi. Dadanya yang gemetar.
Kamar
Foto itu kecil. Ujungnya menguning.
Dua keluarga. Laki-laki berdiri di belakang, bahu menempel, tertawa lebar. Perempuan duduk di depan, menggendong bayi. Latarnya pohon mangga. Tanah merah. Bukan studio.
Wajah ayah muda. Rambutnya masih lebat. Di sebelahnya, laki-laki lain. Tinggi sama. Senyumnya sama. Arga tidak kenal. Wajahnya mulai pudar, dimakan waktu.
Arga membalik foto. Di belakang, tulisan tangan ayah: Persahabatan lebih panjang daripada umur manusia.
Ia membolak-balik lagi. Mencari tanggal. Mencari nama. Tidak ada. Hanya debu waktu yang menempel di jari.
Dulu ayah tidak pernah cerita punya sahabat. Dulu ayah selalu bilang, “Teman banyak, sahabat sedikit.” Lalu siapa laki-laki di foto ini? Mengapa ayah menyimpannya, tapi tidak pernah menunjukkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu jatuh di kepala Arga seperti kerikil. Satu-satu. Lama-lama jadi bukit.