"Ada rumah yang tidak kaya. Tetapi siapa pun yang masuk ke dalamnya akan merasa pulang."
Ruang Tamu
Rumah itu kecil. Dindingnya putih, tapi sudah jadi krem oleh waktu. Tidak ada lukisan mahal. Tidak ada kursi kulit. Hanya tikar pandan, meja kayu pendek, dan satu vas bunga plastik yang bunganya tidak pernah layu karena memang tidak pernah hidup.
Tapi rumah itu harum.
Aroma teh melati datang dari dapur, tipis, merambat, menenangkan sesuatu di dada Arga yang sejak kemarin tegang. Tidak ada televisi menyala. Tidak ada suara motor meraung. Yang terdengar hanya bunyi sendok bertemu gelas, dan suara air mendidih.
Arga duduk di tepi tikar. Punggungnya tidak bersandar. Tangannya memegang lutut. Canggung. Seperti anak kecil yang salah masuk kelas.
Di dekat pintu, sandal-sandal tersusun rapi. Sandalnya sendiri, yang tadi ia lepas asal-asalan, kini sudah sejajar dengan yang lain. Ia tidak ingat merapikannya.
Rumah ini tenang. Terlalu tenang untuk ukuran dunia yang ia kenal.
Dapur
Suara kompor dimatikan.
Nisa berdiri membelakangi Arga, menuang air panas ke dua gelas enamel. Gelasnya retak di bibir, garisnya halus, tapi tetap dipakai.
Ia menoleh sedikit. Rambutnya diikat, beberapa helai lepas di pelipis. “Gula satu sendok atau dua, Mas?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi tidak semua orang bertanya. Biasanya orang main tuang saja. Pahit atau manis, urusan yang minum.
Arga tersentak dari lamunannya. “Satu,” jawabnya. Suaranya lebih pelan dari yang ia kira.
Nisa mengangguk. Tidak ada senyum lebar. Tidak ada godaan. Hanya mengangguk, lalu mengaduk. Pelan. Tidak berisik.
Arga memperhatikan punggung itu. Tidak ada yang istimewa. Tapi ada sesuatu yang membuat ia merasa tidak asing. Seperti pernah melihat pemandangan ini di mana, entah kapan.
Ruang Tamu
Pintu depan terbuka. Pak Rahman masuk. Bajunya penuh debu, celana kainnya kotor di lutut. Sepatunya, sepatu proyek, berat, tanahnya masih menempel.
Belum sempat ia bicara, Nisa sudah berdiri dari dapur. Menghampiri, mengambil tas kerja kecil dari tangan ayahnya. Bukan karena disuruh. Tangannya sudah tahu ke mana harus bergerak.
“Capek ya, Yah?” tanyanya.
Pak Rahman melepas topi, mengusap keringat di dahi dengan lengan. Ia tersenyum, garis-garis di wajahnya ikut tertawa. “Lumayan.”
Ia tidak bilang “ambilkan minum”. Ia tidak bilang “aku lapar”. Ia hanya bilang “lumayan”.
Arga duduk, diam. Ia melihat. Merekam. Di rumahnya dulu, ayah pulang, melepas sepatu sendiri, menaruh tas sendiri, menuang air sendiri. Tidak ada yang salah. Tapi di sini, ada yang berbeda. Ia tidak tahu namanya.
Ruang Makan
Meja pendek. Nasi di bakul. Sayur bening di mangkuk. Tempe goreng yang pinggirnya sedikit gosong. Sambal di cobek batu.
Tidak ada ayam. Tidak ada daging. Tidak ada yang mewah.
Mereka duduk bersila. Pak Rahman di ujung, Nisa di samping, Arga diberi tempat di depan.
Pak Rahman menangkupkan tangan. “Alhamdulillah.”