"Bukan pernikahan yang kutakuti. Melainkan hari ketika istriku harus tersenyum untuk menyembunyikan rasa laparnya."
Bengkel Kecil Desa
Pagi masih muda. Matahari baru setinggi pohon nangka.
Pak Rahman menepuk bahu Arga. “Temani saya antar ini, Ga.”
Sebuah mesin pompa air, catnya sudah mengelupas, diikat di boncengan motor tua. Arga mengangguk. Ia naik di belakang, memeluk mesin itu supaya tidak jatuh.
Jalan tanah bergelombang. Motor melompat-lompat. Debu naik, menempel di baju.
Pak Rahman bersiul pelan. Tidak bertanya soal surat. Tidak menyinggung ayah. Ia justru bertanya, seperti orang menanyakan cuaca.
“Kalau ayahmu masih ada, apa yang paling ingin kau lakukan bersama beliau?”
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka, ringan di telinga, berat di dada.
Arga menatap punggung Pak Rahman. Kausnya basah di bagian leher. Ia ingin menjawab, tapi tenggorokan seperti disumbat.
Akhirnya ia hanya bilang, “Tidak tahu, Pak.”
Angin membawa jawabannya pergi.
Warung Kopi Pinggir Jalan
Mereka berhenti. Warung kecil, atap seng, bangku kayu panjang.
“Minum dulu,” kata Pak Rahman. “Matahari sudah mulai nakal.”
Arga memesan teh manis. Pak Rahman kopi hitam.
Ketika gelas datang, Arga merogoh dompet. Kulitnya lecet di sudut. Di dalamnya hanya KTP, SIM, foto keluarga yang sudah pudar, dan beberapa lembar uang kecil yang lemas.
Tangannya ragu. Uang itu cukup, tapi setelah ini dompetnya kosong.
Belum sempat ia mengeluarkan, Pak Rahman sudah meletakkan uang di meja. “Sudah, biar saya.”
Tidak ada kata “kasihan”. Tidak ada tatapan yang merendahkan.
Arga menutup dompet. Malu naik ke wajah, tapi cepat turun lagi.
Di luar warung, Pak Rahman menepuk jok motor. “Lain kali gantian.”
Kalimat itu pendek. Tapi bagi Arga, seperti ada yang menambal lubang di dadanya.
Sawah
Mesin pompa sudah diturunkan. Pak Rahman jongkok di pematang, membantu seorang petani memperbaiki gagang cangkul yang patah. Kayunya lapuk, talinya menghitam.
Arga berdiri di samping, memegang obeng. “Kenapa tidak beli baru saja, Pak? Di pasar banyak.”
Pak Rahman tidak langsung menjawab. Ia melilitkan kawat, mengencangkan, mengetuk pelan.
“Karena yang masih bisa diperbaiki, jangan buru-buru diganti,” katanya.
Keringat menetes dari dagunya ke tanah. Tanah menerimanya, diam.
Kalimat itu tinggal di kepala Arga. Ia mengira Pak Rahman bicara soal cangkul. Tapi dadanya bilang, bukan.