"Ada hari-hari ketika yang paling melelahkan bukan bekerja, melainkan mencari kesempatan untuk bekerja."
Rumah Arga
Pagi belum genap, tapi Arga sudah bangun.
Ia menarik satu-satunya kemeja yang masih layak dari gantungan. Putih, kerahnya sedikit menguning, tapi disetrika semalam sampai licin. Ia mengenakannya pelan, seperti mengenakan seragam perang.
Dari dapur, bau nasi mengepul. Ibu tidak bertanya mau ke mana. Tidak bertanya untuk apa rapi-rapi. Ibu hanya membungkus nasi, tempe, sambal, memasukkannya ke tas kain yang sudah lusuh.
Arga mengambil tas itu. Kali ini tidak lupa. Kali ini digenggam erat.
Ia menatap ibu sebentar. Ibu mengangguk. Tidak ada kata hati-hati. Tidak ada kata semoga berhasil. Hanya anggukan. Tapi cukup.
Pintu ditutup. Motor tua dinyalakan. Pagi itu, Arga pergi bukan karena disuruh. Tapi karena memilih.
Kawasan Industri Kecil
Debu. Suara mesin. Bau oli.
Arga turun dari motor, merapikan kemeja, mengambil map biru dari tas. Map itu sudah sering dibuka. Sudutnya mulai melengkung. Tapi ia tetap menjaganya, seperti menjaga harapan.
Pabrik pertama. Satpam bertubuh besar, kumis tebal. Arga menyerahkan map, tersenyum. “Permisi, Pak. Saya mau menyerahkan lamaran.”
Satpam menerima, melirik sekilas, lalu menaruhnya di tumpukan paling bawah. “Tinggalkan saja. Nanti kalau ada kabar kami hubungi.”
Arga mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Pabrik kedua. Resepsionis perempuan, sibuk dengan telepon. Map Arga ditaruh di meja tanpa dilihat. “Sudah penuh, Mas.”
Arga tetap senyum. “Baik, Mbak. Terima kasih.”
Pabrik ketiga. Tidak ada yang menemui. Hanya kertas ditempel di kaca: Tidak Menerima Lamaran.
Arga berdiri di depan kaca itu sebentar. Membaca tulisan yang sama untuk ketiga kalinya hari ini. Lalu ia balik badan. Melangkah lagi.
Map biru di tangannya semakin lemas.
Bengkel
Oli hitam di lantai. Suara gerinda menjerit.
Pemilik bengkel, laki-laki tua, tangannya penuh bekas luka bakar, menatap Arga dari atas ke bawah.
“Bisa bongkar mesin?”
Arga menggeleng jujur. “Belum pernah, Pak.”
“Pernah ngelas?”
“Belum.”
Pemilik bengkel menghela napas. Bukan marah. Hanya lelah. “Saya butuh yang langsung jalan, Le. Maaf.”
Arga mengangguk. Tidak membantah. Tidak memaksa. “Ngerti, Pak. Terima kasih sudah ditemui.”
Ia keluar. Di depan bengkel, ia menatap tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk dunia yang butuh pengalaman.