"Ada pekerjaan yang tidak dibayar mahal. Tetapi ada juga pekerjaan yang dibayar dengan harga diri."
Rumah Arga
Pagi. Jam setengah enam.
Telepon bergetar di atas meja. Nomor tidak dikenal. Kemarin malam nomor itu berhenti di kalimat, “Saya dapat nomor Anda dari Pak Rahman...”
Arga mengangkat cepat. Jantungnya menabuh lebih kencang dari biasanya.
“Mas Arga?” Suara lelaki. Serak. Seperti habis rokok dua bungkus.
“Iya, saya.”
“Ada bongkar muat di gudang. Sehari. Mau?”
Arga menelan ludah. “Mau, Pak.”
“Jam tujuh. Jangan telat. Bawa tenaga.”
Telepon mati.
Tidak ada kata upah. Tidak ada kata berapa. Tidak ada kata apa saja yang diangkat.
Arga menatap layar yang sudah gelap. Lalu tersenyum. Kecil. Bukan karena senang. Tapi karena akhirnya ada pintu yang terbuka, meski hanya sehari.
Ibu dari dapur menoleh. Tidak bertanya. Hanya mengangguk. Seperti tahu.
Arga mandi. Air dingin menggigit kulit. Ia pakai kaus paling tebal, celana yang lututnya sudah tipis. Tidak ada sepatu kerja. Hanya sepatu kets yang solnya mulai lepas.
Ia berangkat. Tidak memilih-milih lagi.
Gudang Material
Pagar seng tinggi. Bau semen dan besi karatan.
Arga datang paling awal. Jam enam lebih empat puluh. Tanah masih basah oleh embun.
Mandor keluar dari pos, membawa kopi dalam gelas plastik. Badannya besar. Lehernya hitam oleh matahari. Ia menatap Arga dari ujung rambut sampai sepatu.
“Belum pernah kerja begini?” tanyanya. Langsung. Tidak basa-basi.
Arga menggeleng. Jujur. “Belum, Pak.”
Mandor mengembuskan napas. Bukan kecewa. Hanya menghitung. “Kalau begitu, ikut yang lain. Lihat. Belajar. Jangan banyak nanya.”
Arga mengangguk. “Siap, Pak.”
Ia tidak berpura-pura hebat. Tidak bilang, “Saya kuat.” Ia hanya diam. Karena diam lebih aman daripada janji.
Area Bongkar Muat
Truk datang. Baknya penuh karung semen, besi ulir, bata merah.
Pekerja lain sudah siap. Mereka pakai sarung tangan, topi, kaus yang warnanya tidak jelas lagi.
Arga diberi sarung tangan bekas. Longgar. Ujungnya sobek. Tapi ia pakai.
Karung pertama, ia angkat. Beratnya seperti dosa. Punggungnya langsung panas. Ia salah posisi. Karung hampir jatuh.
“Woii!” Seorang pekerja, umurnya 40-an, badannya kecil tapi berotot, membentak. “Kalau begitu caranya, punggungmu yang rusak! Dekatkan ke badan. Angkat pakai kaki, bukan pinggang!”
Nada keras. Tapi matanya tidak menghina. Hanya ingin benar.
Arga mengangguk. Keringat langsung turun dari dahi. “Maaf, Pak. Siap.”
Ia coba lagi. Kali ini karung menempel di dada. Kaki menekuk. Napas ditahan. Berhasil. Satu langkah. Dua langkah. Sampai ke tumpukan.
Pekerja itu melihat. Tidak memuji. Tapi tidak membentak lagi.
Arga belajar. Dari bawah. Dari nol. Dari malu.