LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #8

BAB 8 - Rumah yang Selalu Menyisakan Kursi


"Ada rumah yang selalu menyediakan satu kursi kosong, seolah percaya bahwa siapa pun bisa datang dan menjadi keluarga."

 

Jalan Desa

Pagi masih basah. Embun belum jatuh dari daun.

Pak Rahman mengayuh sepeda. Di belakang, kotak kayu berisi kipas angin yang semalam ia perbaiki. “Temani saya antar ini, Ga,” katanya. Tidak menyuruh. Tidak meminta tolong. Hanya mengajak.

Arga berjalan di sampingnya. Tidak di bonceng. Jalan kaki lebih pelan, tapi bicara jadi lebih panjang.

Mereka banyak diam. Sesekali Pak Rahman menunjuk ke sawah. “Itu Pak Darto. Dulu buruhku juga. Sekarang punya dua petak.” Lalu ke kebun. “Itu Bu Sari. Suaminya meninggal, anaknya lima. Tapi semua sekolah.”

Tidak ada kata “contohlah”. Tidak ada kata “kamu harus”. Hanya cerita. Tapi setiap cerita seperti benih, jatuh di tanah kepala Arga, menunggu hujan.

Arga mulai suka diam itu. Dulu, diam membuatnya gugup. Sekarang, diam membuatnya merasa ada.


Rumah Rahman

Siang. Matahari di tengah.

Mereka pulang. Sepeda disandarkan. Kipas sudah diantar. Upahnya belum, kata Pak Rahman. “Besok katanya. Tidak apa.”

Dari dalam, bau sayur lodeh keluar. Perut Arga bunyi. Ia malu. Ia menoleh, bersiap pamit. “Saya pulang dulu, Pak.”

Pak Rahman membuka pintu. “Kalau lapar, makan dulu. Perut yang kosong sulit diajak berpikir.”

Kalimat itu biasa. Tapi dada Arga bergetar. Ayah dulu juga begitu. “Makan dulu, Ga. Urusan bisa tunggu.”

Ia menelan ludah. Mengangguk. Melepas sandal. Masuk.

Di dalam, kursi sudah disiapkan. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang bertanya “jadi makan?”. Kursi itu sudah ada, seperti memang disiapkan untuk siapa saja yang lapar.


Meja Makan

Meja kayu. Empat piring. Empat gelas. Tapi yang makan cuma tiga: Pak Rahman, Bu Aminah, dan Arga.

Arga menatap kursi kosong di depannya. “Memang ada yang mau datang, Pak?”

Pak Rahman menuang air ke gelas. “Belum tentu.” Ia tersenyum. “Tapi kalau ada, dia tidak perlu menunggu kami menyiapkan tempat.”

Arga memandang kursi itu lama. Kursi kayu biasa. Tidak ada bantal. Tidak ada ukiran. Tapi kursi itu seperti bicara: kau boleh di sini. kapan saja.

Nasi di bakul selalu lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Tapi anehnya, selalu cukup. Bu Aminah pernah bilang sambil menakar beras, “Kalau ada yang datang, kita tidak bingung.”

Nisa keluar dari dapur, membawa sambal. Ia duduk. Tidak menatap Arga lama-lama. Tidak tersenyum lebar. Hanya duduk, seperti biasa.

Makan dimulai dengan “bismillah” pelan dari Pak Rahman. Tidak ada doa panjang. Tidak ada ceramah. Hanya makan. Tapi entah kenapa, nasi di mulut Arga terasa lebih pulen dari nasi di rumahnya.


Halaman Rumah

Sore. Langit seperti kertas yang dilipat, oranye di satu sisi, biru di sisi lain.

Lihat selengkapnya