LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #9

BAB 9 - Janji Dua Sahabat


"Kadang janji terbesar tidak dibuat untuk diri sendiri, melainkan untuk anak-anak yang bahkan belum mengerti artinya."

 

Rumah Arga

Pagi. Pintu diketuk. Tidak keras. Tiga kali. Sopan.

Arga membuka. Seorang lelaki tua berdiri di depan. Bajunya lusuh, topinya miring, tangannya memegang kotak kayu kecil. Kulitnya terbakar matahari. Matanya cekung, tapi jernih.

“Mas Arga?” suaranya serak.

“Iya, Pak.”

“Saya Jono. Dulu kerja sama almarhum Hasan.” Ia menyodorkan kotak itu. “Ini titipan. Katanya, kasih kalau Mas sudah mulai cari arah hidup.”

Kotak itu ringan. Ukirannya kasar, tapi ada huruf A di sudut. A untuk Arga. Atau untuk Ayah.

Arga menerima dengan dua tangan. Tidak berat. Tapi dadanya tiba-tiba sesak.

“Terima kasih, Pak.”

Lelaki itu mengangguk, lalu pergi. Tidak minta minum. Tidak bicara panjang. Hanya datang, menunaikan amanah, lalu hilang di ujung gang.

Arga menutup pintu. Menatap kotak itu lama. Di dalamnya ada sesuatu dari ayah. Sesuatu yang sengaja disimpan, menunggu waktu yang tepat.


Rumah Rahman

Siang. Jalan ke rumah Pak Rahman sudah hafal di kaki Arga. Tidak perlu berpikir.

Ia mengetuk pintu. Nisa yang buka. Mengangguk kecil. Tidak bertanya. Seperti sudah tahu, Arga pasti datang.

Pak Rahman di ruang tamu, sedang memperbaiki jam dinding. Ketika melihat kotak di tangan Arga, tangannya berhenti. Palu di udara, menggantung.

Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Tapi karena ingat.

Ia meletakkan palu pelan. “Aku kenal kotak itu,” katanya. Suaranya lebih rendah dari biasa. “Ayahmu yang bikin. Waktu kita belum punya apa-apa.”

Arga menyerahkan kotak itu. “Titipan, Pak. Dari Pak Jono.”

Pak Rahman menerima. Jemari yang kapalan mengusap ukiran A di tutupnya. Lama. Seperti menyapa teman lama.


Ruang Tamu

Kotak dibuka. Engselnya berderit.

Di dalam, buku catatan kecil. Sampulnya kulit kambing, sudah mengelupas. Di sampingnya, secarik kertas. Tulisan ayah: Berikan ini ketika Arga mulai mencari arah hidupnya.

Pak Rahman membuka buku itu. Halaman pertama, angka-angka. Upah buruh 12.000. Beras 3.500. Minyak 1.200. Sisa 7.300.

Halaman berikutnya. Pinjam Pak Man 5.000. Bayar 5.000. Lunas.

Tidak ada angka besar. Tidak ada rahasia harta karun. Hanya catatan kecil, rapi, jujur.

Pak Rahman menunjuk tulisan itu. “Kami miskin, Ga. Tapi kami tidak mau kehilangan kepercayaan.”

Ia membalik halaman. Ada nama-nama. Hasan – utang 2.000 – lunas.

Arga menatap nama itu. Hasan. Baru sekali dengar.

Pak Rahman cepat menutup buku. Tidak menjelaskan. Hanya bilang, “Kalau Hasan masih di sini, dia pasti senang bertemu anak sahabatku.”

Nama itu menggantung di udara, lalu hilang.

Lihat selengkapnya