LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #10

BAB 10 - Lelaki yang Hampir Menyerah

"Yang paling berbahaya bukanlah kemiskinan. Yang paling berbahaya adalah saat seseorang mulai percaya bahwa dirinya tidak akan pernah cukup."

 

Perusahaan Konstruksi

Pagi. Langit bersih. Tanpa awan.

Arga berdiri di depan gerbang besi. Namanya tertera di papan pengumuman: Wawancara Tahap Akhir, Pukul 08.00.

Ia datang jam tujuh. Kemeja disetrika semalam, kerahnya masih kaku. Rambut disisir, sepatu disemir, meski solnya sudah tipis. Map biru di tangan. Sudutnya kusut, tapi isinya lengkap.

Di dalam, ia menjawab semua pertanyaan. Tentang pengalaman. Tentang kesanggupan lembur. Tentang loyalitas. Suaranya tenang. Tangannya tidak gemetar.

Keluar dari ruangan, ia menatap langit. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dadanya ringan. Seperti ada yang bilang, kali ini berhasil.

Ia duduk di bangku taman depan kantor. Menunggu.


Halaman Perusahaan

Siang. Pengumuman ditempel lebih cepat.

Kertas A3, nama-nama dicetak tebal.

Arga berdiri di depan papan itu. Matanya menyisir dari atas ke bawah. Tidak ada. Ulangi. Dari bawah ke atas. Tidak ada.

Ia membaca lagi. Pelan. Satu-satu. Andi Pratama. Budi Santoso. Dedi Kurniawan. Tidak ada Arga Saputra.

Tiga kali. Tetap tidak ada.

Orang-orang bersorak. Ada yang menelepon ibu. Ada yang sujud syukur.

Arga diam. Map biru di tangannya terasa berat, seperti batu.

Ia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Halaman mulai sepi. Hanya dia, papan pengumuman, dan bayangannya sendiri.


Jalan Kota

Sore. Langit berubah. Mendung datang tanpa aba-aba.

Hujan turun. Deras. Langsung.

Arga berjalan. Tidak lari. Tidak berteduh. Motornya sudah mogok sejak tadi, businya basah. Ia mendorongnya sendirian.

Air hujan masuk ke mata. Atau air mata. Ia tidak tahu. Tidak peduli.

Suara hujan menutupi segalanya. Suara mobil. Suara klakson. Suara harapan yang pelan-pelan padam di dada.

Kemejanya basah, menempel di badan. Map biru di dalam tas, pasti sudah lemas. Dompet di saku, isinya tinggal beberapa lembar. Dua ribu. Seribu. Lima ratus.

Ia tidak menghitung. Untuk apa.

Jalan terasa panjang. Lebih panjang dari biasanya.


Rumah Rahman

Motor mogok tepat di gang dekat rumah Pak Rahman.

Arga berdiri, air menetes dari rambut, dari dagu, dari ujung jari. Ia tidak berniat mampir. Tapi kakinya lelah.

Pintu terbuka. Pak Rahman di sana. Melihat Arga basah kuyup, motor didorong. Tidak bertanya. Tidak kaget. Hanya berkata, “Masuk dulu.”

Arga ingin menolak. Tapi tenggorokannya kering.

Ia menuntun motor ke teras. Masuk.

Nisa muncul dari dalam. Membawa handuk kecil. Menaruhnya di kursi. Lalu ke dapur. Tidak ada “kamu kenapa?”. Tidak ada “kok basah?”.

Beberapa menit kemudian, teh hangat di meja. Uapnya naik.

Arga duduk. Tidak bicara. Pak Rahman juga. Bu Aminah di dapur, suaranya pelan membereskan piring.

Mereka menjaga harga dirinya. Tidak mengorek luka.

Di luar, hujan masih jatuh. Di dalam, hangatnya tidak dibuat-buat.

Lihat selengkapnya