"Ada rezeki yang datang cepat. Tapi tidak semua rezeki layak diterima."
Rumah Arga
Pagi datang dengan amplop.
Bukan amplop cokelat. Amplop putih. Tebal. Disodorkan oleh lelaki yang mengaku kerabat jauh ayah. Namanya Pak Wira. Bajunya rapi. Jam tangannya mengkilat. Mobilnya parkir di depan, menghalangi jalan gang.
“Dari almarhum, saya kenal baik,” katanya. Senyumnya lebar, giginya putih. “Sekarang saya dengar kamu cari kerja. Kebetulan ada lowongan di proyek saya. Kota. Gaji lumayan. Mess ada. Makan ditanggung.”
Arga menerima amplop itu. Berat. Bukan karena kertasnya. Karena janji di dalamnya.
“Apa kerjanya, Pak?”
Pak Wira tertawa. “Lapangan. Urus-urus. Kamu pintar ngomong. Nanti ada yang perlu dilicinkan, kamu licinkan. Ada laporan yang perlu dirapikan, kamu rapikan. Semua orang juga begitu, Ga. Yang penting proyek jalan.”
Arga diam. Ibu di belakang, berdiri di pintu dapur. Tidak ikut bicara. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng.
Pak Wira menepuk bahu Arga. “Pikir dulu. Uang mukanya ada di dalam. Kalau mau, besok ikut saya ke kota.”
Ia pergi. Mobilnya mundur, knalpotnya meninggalkan bau bensin dan kesombongan.
Amplop itu di tangan Arga. Belum dibuka. Belum diterima. Belum ditolak.
Warung
Siang. Panas menyengat seng.
Pak Wira mengajak Arga ke warung kopi. Mejanya kayu. Kopinya hitam.
“Lihat ini,” kata Pak Wira. Ia mengeluarkan HP, menunjukkan foto rumah tingkat, mobil, anaknya wisuda. “Semua dari proyek, Ga. Kamu mau hidup susah terus? Idealisme tidak bisa dimakan.”
Ia menunjuk amplop di saku Arga. “Ambil. Besok kamu sudah tidak perlu naik angkot. Tidak perlu malu.”
Arga menunduk. Tangannya menyentuh amplop itu. Tebal. Kalau dibuka, mungkin isinya cukup untuk bayar kontrakan setahun. Cukup untuk beli sepatu baru. Cukup untuk ibu tidak lagi menghitung beras.
Tapi di kepala Arga, suara lain bicara. Suara Pak Rahman: Yang penting dirawat. Suara ayah: Rezeki kecil pun harus punya tujuan.
Ia meneguk kopi. Pahit. Ia tidak menjawab.
Pak Wira tertawa. “Kamu pikir-pikir. Tapi jangan lama. Kesempatan tidak datang dua kali.”
Rumah Arga
Malam. Lampu kuning.
Ibu duduk di tikar, menyulam. Benangnya merah.
Arga mengeluarkan amplop itu, menaruhnya di meja. Tidak dibuka.
Ibu melirik. Lalu kembali menyulam. “Ibu tidak akan melarang,” katanya. Pelan. “Uang itu kalau masuk, akan ikut ke dapur kita. Ikut ke beras yang kita makan. Ikut ke baju yang kita pakai.”
Ia berhenti menyulam. Menatap Arga. “Ibu cuma takut, nanti nasi kita jadi susah ditelan.”
Tidak ada ceramah. Tidak ada ayat. Hanya kalimat itu. Tapi bagi Arga, seperti ditampar tanpa tangan.
Ia menunduk. Mengambil amplop itu lagi. Memasukkannya ke saku. Tidak bilang iya. Tidak bilang tidak.
Kuburan Ayah
Senja. Langit merah seperti luka.
Arga datang sendiri. Duduk di tanah. Rumput liar tumbuh di sekitar nisan. Ia cabuti pelan. Satu-satu.
Tangannya kotor. Di pergelangannya, jam tangan ayah. Sudah mati. Jarumnya berhenti di angka lima. Tapi tetap ia pakai. Setiap hari.
Ia menatap nisan. Tidak bicara. Tidak doa keras-keras. Hanya duduk. Lama.
Lalu ia bergumam, pelan, seperti takut didengar angin. “Kalau Ayah ada... apa yang akan Ayah pilih?”