LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #12

BAB 12 - Bukan Tentang Siapa yang Kaya


"Menikah bukan memilih orang yang sudah siap. Menikah adalah memilih seseorang yang mau terus belajar."

 

Rumah Rahman

Pagi. Tidak ada undangan resmi. Tidak ada keluarga besar. Tidak ada kue, tidak ada bunga.

Hanya Arga, ibunya, Pak Rahman, Bu Aminah, dan Nisa.

Mereka duduk di ruang tengah. Lantai tikar, dinding kapur, angin masuk dari jendela yang terbuka. Bau teh dan tanah basah bercampur.

Pak Rahman meletakkan dua cangkir teh di meja. Tidak di hadapan orang tua. Di hadapan Arga dan Nisa.

“Hari ini bukan untuk menentukan nasib siapa pun,” katanya. Suaranya pelan. Tidak berat. Tidak ringan. Pas. “Hari ini hanya untuk membuka hati.”

Arga menunduk. Ibunya meremas ujung kebaya. Nisa diam, tangannya di pangkuan.

Tidak ada yang bicara dulu. Hanya uap teh naik, tipis, lalu hilang.


Ruang Tengah

Pak Rahman menarik napas. Matanya menatap Arga, lalu Nisa.

“Aku tidak pernah berjanji kepada sahabatku untuk menjadikan kalian suami istri.”

Kalimat itu jatuh. Tidak keras. Tapi menggema.

Arga mendongak. Nisa mengangkat wajah sedikit.

“Aku hanya berjanji mempertemukan dua orang yang mungkin memiliki cara hidup yang sama,” lanjut Pak Rahman. “Kalau cocok, syukur. Kalau tidak, tidak ada yang rugi.”

Ia menunjuk cangkir di depan mereka. “Minum. Bicara. Bukan di sini. Di teras. Kalian yang tentukan.”

Tidak ada paksaan. Tidak ada mata yang mengawasi. Tidak ada utang budi yang ditagih.

Arga dan Nisa berpandangan. Untuk pertama kalinya, mereka sadar: keputusan ada di tangan mereka. Bukan di surat ayah. Bukan di janji lama.


Teras Rumah

Teras sempit. Bangku kayu. Di bawah, pot cabai dan tomat. Di atas, atap seng, ada lubang kecil tempat cahaya masuk.

Mereka duduk. Tidak rapat. Ada jarak satu lengan. Di depan, dua cangkir teh. Masih hangat.

Tidak romantis. Tidak ada musik. Hanya suara ayam, suara motor lewat, suara daun mangga bergesek.

Lama.

Akhirnya Arga bicara. Suaranya serak. “Aku belum punya pekerjaan tetap.”

Nisa mengangguk. Tidak kaget. “Aku tahu.”

“Aku juga belum punya rumah sendiri.”

“Aku tahu.”

Arga menoleh. “Aku juga belum tahu besok makan apa.”

Nisa tersenyum. Tipis. Bukan mengejek. Bukan menghibur. “Aku juga belum punya kehidupan yang sempurna.”

Hening lagi. Tapi heningnya beda. Bukan canggung. Bukan takut. Seperti dua orang yang sama-sama membawa tas berat, lalu sadar, tas mereka isinya sama.


Lihat selengkapnya