LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #13

BAB 13 - Lelaki Ketiga

 

"Setiap persahabatan memiliki satu nama yang perlahan hilang dari cerita. Bukan karena dilupakan, tetapi karena terlalu menyakitkan untuk disebut."

 

Rumah Rahman

Pagi. Udara masih dingin.

Lelaki di pintu berdiri kaku. Tas kanvas di punggungnya lusuh, warnanya cokelat tanah, talinya berserat. Bajunya debu, sepatunya retak.

Pak Rahman menatapnya. Kursi jatuh. Matanya tidak percaya. Bibirnya bergerak, pelan. “Hasan...”

Bukan. Lelaki itu menggeleng. “Saya Darto, Pak. Dulu kerja sama Pak Hasan.”

Ia menurunkan tas itu. Meletakkannya di lantai. Debu mengepul sedikit. “Sebelum meninggal, Pak Hasan titip. Katanya, serahkan ke Bapak. Katanya, waktunya sudah dekat.”

Semua diam. Nisa di pintu dapur, tangan menggenggam lap. Bu Aminah menutup mulut. Ibu Arga, yang ikut datang pagi itu, menatap tas itu seperti melihat hantu.

Arga berdiri di tengah. Tidak mengerti. Tapi dadanya berat.

Pak Rahman berjongkok. Tangannya gemetar saat menyentuh tas itu. Kainnya kasar. Baunya apek, seperti lemari lama.


Ruang Tamu

Tas dibuka. Engselnya karat.

Di dalam, paling atas, foto. Hitam putih. Ukurannya 3R. Ujungnya robek sedikit, di pojok kiri.

Tiga lelaki muda. Berdiri berdampingan. Bahu menempel. Di belakang, pohon mangga.

Yang tengah, ayah Arga. Giginya tidak lengkap, tapi tawanya lebar. Di kiri, Pak Rahman, kurus, rambutnya gondrong. Di kanan, lelaki lain. Matanya tajam, dagunya keras. Itu Hasan.

Arga baru pertama kali melihat ayahnya tertawa seperti itu. Lepas. Tanpa beban. Seperti anak muda yang belum kenal kata gagal.

Di bawah foto, buku catatan. Sampulnya kulit, sudah mengelupas. Di sampingnya, beberapa amplop. Masih tersegel. Satu amplop, tulisannya besar: Untuk Arga, ketika kau telah memikul tanggung jawab keluarga.

Jari Arga ingin menyentuh. Pak Rahman menahan. “Belum waktunya.”

Arga menurut. Tapi matanya tidak lepas dari amplop itu.


Ruang Tengah

Siang. Teh sudah dingin.

Pak Rahman memegang foto itu lama. Ibu Arga duduk di sampingnya. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Kami bertiga,” kata Pak Rahman. Suaranya serak. “Merantau sama-sama. Tahun 92. Kontrakan sempit, satu kamar, tiga tikar.”

Ia menunjuk foto. “Ini di depan kontrakan. Belum ada apa-apa. Tapi kita punya semua.”

Ia cerita. Tidur bergantian jaga, karena takut maling. Masak beras satu gelas, dibagi tiga. Pinjam uang dua ribu, dicatat, dibayar walau seminggu kemudian.

“Tidak ada yang kaya,” kata Pak Rahman. “Tapi kita kaya saling percaya.”

Arga mendengar. Membayangkan. Ayahnya, Pak Rahman, dan Hasan. Muda. Kurus. Tapi bahu mereka rapat.

“Kenapa tidak pernah cerita, Pak?” tanya Arga. Pelan.

Pak Rahman menatap foto. “Karena ada yang terlalu menyakitkan untuk disebut.”

Lihat selengkapnya