"Seorang lelaki tidak selalu datang membawa kepastian. Kadang ia hanya datang membawa keberanian untuk tidak menyerah."
Halaman Rumah Rahman
Pagi. Langit belum tinggi, tapi sudah terang.
Arga berdiri di depan pagar. Di tangannya, kotak kecil. Kayu jati, halus, tidak diukir. Di dalamnya bukan emas, bukan berlian. Hanya cincin perak, tipis, polos. Hasil kerja serabutan tiga minggu. Menurunkan semen, mengangkat galon, menyapu toko orang.
Tangannya gemetar. Bukan karena malu. Bukan karena takut ditolak. Karena takut tidak mampu menepati apa yang akan ia ucapkan.
Ia menarik napas. Mendorong pagar. Pelan.
Ruang Tamu
Tidak ada karpet merah. Tidak ada keluarga besar. Tidak ada penghulu.
Hanya Pak Rahman di kursi kayu, Bu Aminah di sampingnya, Nisa di ujung, dan ibu Arga yang duduk paling pinggir, tangannya menggenggam tas kain.
Pak Rahman menunjuk kursi kosong. “Duduk, Ga.”
Arga duduk. Kotak itu di pangkuan. Ia tidak langsung bicara. Tidak langsung membuka.
Pak Rahman menatapnya. Lama. Lalu berkata, suaranya seperti air tenang.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Ruangan hening. Jam dinding berdetak.
“Kalau nanti hidup menjadi lebih berat daripada hari ini... apakah kau tetap akan bertahan?”
Arga menunduk. Ia ingat dompet yang hampir kosong. Ingat motor yang sering mogok. Ingat wawancara yang gagal. Ingat amplop tebal yang ia tolak.
Ia mengangkat wajah. Mata Pak Rahman tidak menghakimi. Hanya menunggu.
“Saya tidak tahu apakah saya akan selalu berhasil, Pak,” katanya. Pelan. Tapi jelas. “Tapi saya tahu saya tidak akan lari.”
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada “alhamdulillah”. Hanya sunyi. Tapi sunyi yang penuh.
Teras Rumah
Pak Rahman berdiri. “Kalian bicara dulu.” Ia menunjuk teras. Lalu masuk ke dalam bersama Bu Aminah dan ibu Arga. Pintu ditutup pelan.
Tinggal Arga dan Nisa.
Di teras, bangku kayu. Di bawah, pot cabai. Di atas, langit mulai panas.
Mereka duduk. Ada jarak setengah meter. Tidak ada yang berusaha mendekat. Tidak ada yang berusaha menjauh.
Arga menatap tangannya sendiri. Kapalan. Luka lama. “Aku belum punya rumah,” katanya. Jujur. Tanpa pembuka.
Nisa mengangguk. “Aku tahu.”
“Belum punya pekerjaan tetap.”
“Aku tahu.”
“Bahkan tabunganku tidak banyak.”
Nisa diam sebentar. Lalu menoleh. “Kalau suatu hari kita gagal?”
Arga menatapnya. Mata itu tidak menuntut. Tidak menguji. Hanya ingin tahu.