"Ijab kabul hanya berlangsung beberapa detik. Menjadi suami berlangsung seumur hidup."
Masjid
Siang. Panas menyentuh ubin.
Akadnya sederhana. Tidak ada pelaminan. Tidak ada bunga. Tidak ada kamera. Hanya sajadah, penghulu, dua saksi, dan wali.
Arga duduk bersila. Lututnya gemetar. Di depan, Pak Rahman memegang tangannya.
“Bismillahirrahmanirrahim,” kata penghulu. “Ananda Arga Saputra, saya nikahkan engkau dengan Nisa Rahmawati binti Rahman...”
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia menatap Nisa. Hanya sebentar. Nisa menunduk, jilbab putih, tidak ada rias tebal.
“...dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai.”
Ia menarik napas. Suaranya keluar, sedikit bergetar, tapi utuh. “Saya terima nikahnya Nisa Rahmawati binti Rahman dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Sah.
Orang-orang mengucap “Alhamdulillah”. Tidak ramai. Tidak riuh. Tapi cukup.
Arga menatap Nisa lagi. Bukan dengan bangga. Dengan sadar. Hidupnya berubah. Mulai detik ini, bukan lagi “aku”. Tapi “kami”.
Halaman Masjid
Matahari tepat di atas kepala. Bayangan pendek.
Pak Rahman memeluk Arga. Tidak lama. Tidak erat. Tapi sampai ke tulang.
Ia hanya berkata, “Mulai hari ini, perjuanganmu dimulai.”
Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada “jadi suami yang baik”. Kalimat itu cukup.
Bu Aminah menyalami ibu Arga. Keduanya menangis. Diam. Nisa berdiri di samping Arga, tangannya dingin saat bersalaman dengan tamu.
Tidak ada foto. Tidak ada potong kue.
Hanya salaman, doa, dan langkah pulang.
Rumah Kontrakan Sederhana
Sore. Kunci diputar. Pintu kayu terbuka.
Lantainya semen. Dingin. Dinding kapur, ada retak seperti urat. Kasur tipis di lantai. Kompor satu tungku di sudut. Lemari kayu tanpa pintu.
Dua piring. Dua gelas enamel. Satu biru, satu putih, pinggirnya sudah sompel.
Nisa masuk. Melepas sandal. Menaruh tas kain di pojok. Ia menoleh ke Arga, tersenyum. “Rumah kita.”
Arga melihat sekeliling. Atap asbes. Jendela kecil. Tidak ada kursi. Tidak ada meja.
Ada rasa bersalah naik ke dada. Ia ingin memberi lebih. Tapi ini yang ada.
Ia mengangguk. “Iya. Rumah kita.”
Angin masuk dari jendela. Membawa bau tanah basah.
Dapur Kecil
Mereka masak bersama. Pertama kali.
Beras satu gelas. Airnya kebanyakan. Nisa mengaduk, Arga mengipasi kompor.
Sayur bayam. Garamnya kelebihan. Arga mencicipi, mengernyit. Nisa ikut mencicipi, lalu tertawa.