"Hari itu Arga pulang membawa uang paling sedikit dalam hidupnya. Tetapi justru hari itulah ia merasa paling layak disebut suami."
Proyek Bangunan
Pagi. Matahari belum tinggi, tapi keringat sudah jatuh.
Arga berdiri di antara besi dan semen. Helm kuning kebesaran, sepatu boot yang dipinjam, kaus lengan panjang yang lengket di punggung. Hari pertama bekerja sebagai buruh harian setelah menikah.
Ia mengangkat bata. Satu. Dua. Sepuluh. Tangannya cepat. Punggungnya tidak mengeluh. Bukan karena mandor melihat. Bukan karena takut dipotong.
Karena di rumah, ada Nisa. Menunggunya.
Setiap bata yang ia susun, ia bayangkan jadi dinding rumah mereka. Setiap karung yang ia angkat, ia bayangkan jadi beras di dapur.
Hari ini, ia tidak bekerja untuk dirinya sendiri.
Proyek
Siang. Matahari tepat di kepala. Bayangan hilang. Debu naik.
Teriakan pecah.
Seorang buruh tua, Pak Karto, terpeleset. Karung semen menimpa kakinya. Ia mengerang, memegang lutut, wajahnya pucat.
Semua orang berhenti sebentar. Menoleh. Lalu kembali kerja. Waktu adalah uang. Upah dihitung per kubik.
Arga meletakkan bata di tangannya. Ia lari ke Pak Karto. Mengangkat tubuh yang ringan itu, membopongnya ke pinggir, ke bawah pohon.
“Pak, tahan,” katanya. “Saya panggil orang.”
Ia lari ke pos, ke mandor, ke klinik kecil di seberang proyek.
Satu jam hilang. Targetnya tidak tercapai. Mandor mencatat, menggeleng. “Upahmu kepotong, Ga. Tidak sampai target.”
Arga mengangguk. Tidak membantah.
Pak Karto menggenggam tangannya sebelum dibawa ke klinik. “Terima kasih, Nak. Kalau tidak ada kau...”
Arga tersenyum. “Sama-sama, Pak.”
Di tangannya, debu semen. Di dadanya, sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Jalan Pulang
Sore. Upah diterima. Tidak penuh. Dipotong.
Arga menghitung di bawah pohon. Enam puluh lima ribu. Cukup untuk beras dua kilo, sayur, dan ongkos besok.
Ia lipat, masukkan dompet. Dompet kulit, pemberian ayah, sudah mengelupas.
Di jalan, ia mampir ke warung, beli minum. Kembalian dari ibu warung, lebih. Seharusnya dua ribu, dikasih dua puluh ribu.
Arga diam. Menatap uang itu. Dua puluh ribu. Bisa untuk lauk. Bisa untuk ongkos tiga hari.
Ia balik badan. Jalan kaki kembali ke proyek. Sepuluh menit. Panas. Kaki pegal.
Mandor di pos, menghitung. Arga menyerahkan uang itu. “Kelebihan, Pak.”
Mandor mendongak. Menatap Arga lama. Lalu tertawa, tapi tidak mengejek. Ia menepuk bahu Arga. “Jarang ada orang balik hanya untuk mengembalikan uang, Ga.”
Ia ambil uang itu. “Hati-hati di jalan.”
Arga mengangguk. Keluar.
Ongkos angkot jadi tidak cukup. Ia harus jalan kaki lebih jauh. Uang di dompet berkurang lagi.
Warung Kecil
Langit jingga. Perut Arga kosong.
Ia berhenti di warung. “Bungkus nasi satu, Bu. Yang biasa.”