"Jumlah uang di saku Arga belum berubah. Yang berubah adalah cara ia melangkah menuju rumah."
Subuh di Kontrakan
Subuh belum genap. Langit masih kelabu.
Nisa di dapur. Kompor satu tungku menyala, apinya kecil. Di wajan, tempe diiris tipis. Di cobek, sambal diulek. Nasi semalam dihangatkan, kepulnya tipis.
Ia bungkus dengan daun pisang, lalu masukkan ke kotak plastik retak. Di atasnya, ia selipkan sendok.
Arga keluar dari kamar. Rambut basah, baju kerja sudah rapi. Jam ayah melingkar di pergelangan.
Nisa menyerahkan bekal. “Kalau siang nanti sempat istirahat, makan yang habis.”
Arga menerima. Beratnya tidak seberapa. Tapi hangatnya sampai ke dada.
Ia tersenyum. Bukan senyum sopan. Senyum yang ringan. “Iya.”
Di luar, ayam tetangga berkokok. Hari dimulai.
Proyek Bangunan
Pukul tujuh. Matahari mulai naik. Debu sudah beterbangan.
Mandor berdiri di pos, mencatat. Matanya sesekali melirik Arga.
Arga tidak paling kuat. Tidak paling cepat. Tapi ia tidak berhenti. Bata diangkat, semen diaduk, pasir disekop. Tidak ada keluhan. Tidak ada rokok. Tidak ada ngobrol ngalor-ngidul.
Jam sepuluh, Udin, buruh baru, tersandung. Kayu melintang menimpa kakinya. Ia mengerang.
Yang lain menoleh. Lalu kembali kerja. Target hari ini padat.
Arga meletakkan cangkul. Lari ke Udin. Mengangkat kayu itu. Memapah Udin ke pinggir. Mengambil air, menuang ke luka.
“Itu bukan kerjaanmu, Ga,” kata Karyo, temannya.
Arga mengikatkan sapu tangan ke kaki Udin. “Bentar lagi juga kerja lagi.”
Mandor melihat. Tidak bicara. Hanya mencatat di buku kecilnya.
Waktu Makan Siang
Bayangan pohon sengon. Kuli-kuli duduk, membuka bekal.
Arga membuka bungkusan daun pisang. Nasi. Tempe. Sambal. Bau bawang menggoda.
“Wah, masakan istri,” goda Marno, mulut penuh. “Enak bener kayaknya.”
Yang lain menoleh. “Lauknya tempe terus, Ga?”
Arga tidak menunduk. Tidak tersinggung. Ia menyendok nasi, tersenyum. “Yang masak istriku.”
Kalimat itu pelan. Tapi dadanya tegak.
Ia makan habis. Sampai daun pisang bersih. Bukan karena lapar saja. Karena tiap butir nasi itu ada tangan Nisa.
Marno diam. Lalu menepuk punggung Arga. “Rezeki, Ga.”
Sore di Proyek
Pukul empat. Bel pulang belum bunyi.