LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #18

BAB 18 - Harga Sebuah Harga Diri

 

"Tidak semua luka datang karena tidak punya uang. Ada luka yang lahir dari cara orang memandangmu."

 

Pagi di Kontrakan

Subuh belum lepas. Embun masih menggantung di ujung seng.

Nisa membentangkan kemeja Arga di atas meja. Satu-satunya kemeja rapi. Kerahnya sudah tipis, bekas setrikaan tahun lalu. Ia menciprati air, menyetrika pelan. Uap naik, membawa bau sabun murah.

Arga keluar dari kamar, rambut basah. Ia lihat kemeja itu. Rapi. Seperti baru.

Nisa tersenyum. “Kalau bajunya bersih, semangatnya ikut rapi.”

Arga tertawa kecil. Ia pakai kemeja itu. Kerahnya dingin di leher. Tapi dadanya hangat.

Di meja, bekal sudah dibungkus daun. Nasi, tempe, sambal. Sama seperti kemarin. Tapi hari ini terasa cukup.

Ia pamit. Nisa berdiri di pintu, tidak melambai. Hanya menatap.

Langkah Arga ringan. Bukan karena uang di dompet. Karena di rumah, ada yang percaya.

 

Proyek Baru

Tanah merah. Besi berserakan. Suara mesin pemotong.

Arga turun dari bak mobil mandor. Sepatunya boot bekas, solnya tipis. Kemejanya rapi, tapi lengan sudah melar.

Beberapa pekerja lama menoleh. Bisik-bisik.

“Orang kepercayaan mandor,” kata satu orang. Pelan. Tapi sampai. “Lihat saja sepatunya. Solnya mau lepas.”

Arga dengar. Jelas.

Dadanya panas. Tangannya mengepal. Ingin menoleh, ingin bicara.

Tapi ia ingat teh semalam. Ingat kata Nisa: Yang membuatku kecewa kalau kita berhenti saling bicara.

Ia buka buku catatan. Tulis tanggal. Tulis nama proyek. Tulis bismillah.

Lalu angkat semen. Satu sak. Dua sak. Tidak menoleh.

 

Waktu Istirahat

Pukul dua belas. Sirene panjang.

Kuli-kuli duduk di bawah seng. Buka bekal. Ada yang bawa ayam. Ada yang bawa mie.

Arga buka bungkusannya. Nasi. Tempe. Sambal.

Di pojok, Ujang, anak baru, menunduk. Bekalnya ketinggalan di kontrakan. Perutnya bunyi.

Yang lain makan. Tidak ada yang menawarkan.

Arga menatap bekalnya. Tidak banyak. Tapi cukup untuk berdua kalau makan pelan.

Ia geser daun pisang. “Sini, Jang. Bagi dua.”

Ujang mendongak. Kaget. “Aduh, Ga. Tidak usah.”

“Udah. Makan.”

Mereka makan diam-diam. Nasi dibagi. Tempe dipatahkan. Sambal dibagi dua.

Yang tadi mengejek, namanya Darto, melihat dari jauh. Tangannya berhenti menyuap. Ia menunduk, lanjut makan.

Tidak ada yang bilang terima kasih. Tidak perlu.

 

Sore

Lihat selengkapnya