LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #19

BAB 19 - Nama yang Dipercaya

 

"Ada orang yang membawa ijazah ketika mencari pekerjaan. Arga hanya membawa satu hal: nama baiknya."

 

Proyek

Pagi. Debu masih menggantung di udara.

Mandor menepuk bahu Arga. “Ga. Sini sebentar.”

Di pinggir proyek, seorang lelaki berdiri. Kemeja batik, celana kain, sepatu kulit yang sudah kusam di ujung. Umurnya lima puluh lebih. Rambut beruban, tapi matanya tajam.

“Bima,” katanya. Ulurkan tangan. “Toko bahan bangunan. Kecil.”

Arga salami. Tangan itu kasar. Tangan orang kerja.

Bima tidak tanya ijazah. Tidak tanya pengalaman. Ia menatap Arga, lalu bicara pelan. “Katanya uang kembalian berlebih pernah kau kembalikan?”

Arga menunduk. “Iya, Pak.”

“Kenapa?”

Arga diam sebentar. Lalu jawab, “Bukan hak saya.”

Bima tersenyum. Bukan senyum dagang. Senyum orang yang menemukan barang hilang. “Saya lebih tertarik pada cerita itu daripada isi CV.”

Di belakang, Joko dan Darto pura-pura angkat semen. Tapi telinga mereka ke sini.

Mandor mengangguk. “Saya lepas dia, Pak Bima. Orang ini bisa dipercaya.”

Arga menatap tanah. Dadanya sesak. Bukan karena malu. Karena untuk pertama kali, namanya disebut bukan karena kasihan.

 

Toko Bahan Bangunan

Siang. Jalan sempit. Ruko satu pintu.

Catnya mengelupas. Papan nama: TB. Bima Jaya. Hurufnya miring.

Di dalam, rak-rak besi. Semen bertumpuk. Paku di toples kaca. Karyawan dua orang. Satu tua, satu muda. Kipas angin berputar, bunyinya berderit.

Bima buka pintu gudang. Sempit. Pengap. Tikus lewat.

“Aku tidak bisa menggajimu besar,” katanya. Jujur. Tidak basa-basi. “Buruh di sini tujuh puluh ribu sehari, Itupun kalau pengunjung ramai.Kalau kau mau, OK, saya akan menerimamu .”

Arga lihat sekeliling. Tidak ada AC. Tidak ada komputer. Hanya buku bon, pulpen, dan kaleng kue untuk kembalian. Receh semua.

“Yang bisa kuberikan adalah kesempatan belajar,” lanjut Bima. “Catat barang. Layani orang. Hitung untung. Kalau salah, tanggung jawab.”

Arga diam. Di proyek, upah pasti. Di sini, tidak.

Bima rogoh saku. Keluarkan buku kecil. Sampul hitam. Polos.

“Kalau mau belajar mengelola usaha, biasakan mencatat.” Ia sodorkan. “Ini pasanganmu.”

Arga terima. Buku itu tipis. Tapi berat.

 

Rumah Kontrakan

Malam. Lampu lima watt. Tikar digelar.

Arga cerita. Semua. Tentang toko. Tentang gaji. Tentang risiko.

Nisa duduk, dengar. Tidak motong. Tidak mengernyit.

“Kalau pindah, penghasilan tidak pasti,” kata Arga. “Kalau di proyek, tiap hari ada. Tapi... ya gitu-gitu saja.”

Nisa tuang teh. Enamel biru. Uapnya naik.

Ia tidak jawab cepat. Ia letakkan gelas di depan Arga. Lalu duduk.

“Kalau lima tahun lagi, Mas ingin menjadi orang seperti apa?”

Lihat selengkapnya