LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #20

BAB 20 - Orang yang Paling Mudah Dicurigai

 

"Reputasi dibangun bertahun-tahun. Kadang hanya butuh satu tuduhan untuk meruntuhkannya."

 

Toko Bima

Pagi. Pintu ruko dibuka. Engselnya berderit.

Arga yang pertama masuk. Sapu di tangan. Ia sapu lantai, dari depan sampai gudang. Debu diangkat, paku dipungut, toples kembalian dilap.

Pelanggan datang satu-satu. Tukang bangunan. Ibu rumah tangga. Anak sekolah beli cat.

Arga hafal nama. “Pagi, Pak Karno. Semen biasa atau campur?”

“Sudah, Bu. Catnya yang kiloan saja ya.”

Bima berdiri di kasir, lihat dari jauh. Tidak komentar. Tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Arga tidak paling cepat. Tidak paling pintar. Tapi ia ingat. Ingat wajah. Ingat pesanan. Ingat utang orang yang belum bayar minggu lalu, tapi tidak ditagih dengan kasar.

Toko kecil. Tapi hari ini terasa hidup.

 

Siang

Jam dua belas. Pergantian shift.

Dodo, karyawan lama, hitung laci kasir. Tangannya cepat. Uang kertas disusun, logam dikelompokkan.

Wajahnya berubah. Ia hitung lagi. Sekali. Dua kali.

“Pak,” panggilnya ke Bima. Suaranya pelan. Tapi semua dengar. “Kurang.”

Bima datang. “Berapa?”

“Tiga puluh tujuh ribu.”

Tidak besar. Tapi di toko kecil, itu beras dua hari.

Semua menoleh. Ke kasir. Ke Arga. Tadi pagi sampai siang, Arga yang pegang.

Udara mendadak berat. Kipas angin tetap berputar, tapi panas.

Darto, yang paling lama, bicara. Pelan. Tapi tajam. “Katanya jujur.”

Kalimat itu pendek. Tapi masuk ke dada Arga seperti paku.

Arga tidak jawab. Tidak marah. Ia taruh buku catatan di meja.

“Hitung ulang semuanya,” katanya. Suaranya datar.

 

Gudang

Semua nota dikumpulkan. Bertumpuk.

Arga buka bukunya. Sampul hitam. Tulisannya kecil, rapi. Tanggal. Nama. Barang. Jumlah. Kembalian.

Dodo baca nota. Bima cocokkan ke laci. Darto diam di pojok.

Satu jam. Keringat jatuh. Tidak ada yang bicara.

Arga tunjuk satu baris. “Ini. Pukul setengah dua belas. Beli paku dua kilo, cat satu. Bayar lima puluh ribu. Kembalian tiga belas ribu.”

Dodo kerutkan dahi. “Tidak ada di nota toko.”

“Karena belum sempat ditulis,” kata Arga. “Pelanggannya buru-buru. Bapak tua, bawa cucu. Saya kasih kembalian, tapi nota belum sempat saya sobek. Ada di sini.”

Ia buka laci kecil di bawah kasir. Nota kecil, belum disobek, terselip.

Bima ambil. Cocokkan. Tiga puluh tujuh ribu. Pas.

Hening.

Darto menunduk. Dodo garuk kepala.

Lihat selengkapnya