LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #21

BAB 21 - Jarak yang Tidak Terlihat

 

"Ada jarak yang tidak diukur dengan kilometer. Ada jarak yang tumbuh ketika dua orang mulai terlalu lelah untuk saling bercerita."


Toko Bima

Pagi. Belum jam tujuh.

Arga dorong pintu besi. Suaranya berderit, panjang. Ia buka kunci, nyalakan lampu. Kipas angin hidup, berdebu. Sapu di tangan. Debu disapu, rak dilap, paku disusun.

Pelanggan pertama datang jam delapan. Tukang kayu. “Ga, semen satu sak. Yang biasa.”

Arga angkat. Tulis nota. “Tiga puluh delapan ribu, Pak.”

“Ambil kembaliannya, Ga. Kau hitung cepat.”

Ia hitung. Pas. Senyum.

Nama itu mulai dikenal. “Ga, ada cat putih?” “Ga, paku triplek ada?”

Bukan mandor yang manggil. Bukan “anak baru”. Ga.

Ia tegak. Bukan sombong. Bangga.

Di saku, buku catatan kecil. Tiap transaksi ditulis. Tiap nama diingat.

Di dada, rasa baru. Dihargai.

 

Toko

Sore. Langit jingga, tapi kerja belum selesai.

Truk datang terlambat. Semen lima puluh sak. Pasir satu rit. Harusnya jam tiga. Sekarang jam lima.

Bima di telepon. “Besok toko ramai. Kalau tidak turun hari ini, pelanggan kecewa.”

Arga lihat jam. Setengah enam. Di rumah, Nisa tunggu.

Tapi rak kosong. Besok ada orang bangun rumah.

Ia lepas jam ayah, taruh di laci. Lengan baju digulung. “Saya bantu, Pak.”

Bima menatap. “Kau tidak pulang?”

“Nanti, Pak. Bereskan dulu.”

Sak demi sak diangkat. Punggung basah. Napas berat.

Jam tujuh. Baru selesai. Tangan kapalan. Kaki gemetar.

Ia lupa. Lupa kabari.

HP di saku. Bekas. Murah. Tapi belum sempat dipakai.

 

Kontrakan

Malam. Lampu teras menyala. Kuning. Hangat.

Di dalam, meja makan. Nasi di piring. Ditutup tudung. Sayur bening di mangkuk. Sudah dingin.

Nisa duduk di kursi. Tidak makan. Tidak nyalakan TV. Hanya tunggu.

Jam dinding: delapan lebih.

Pintu terbuka. Arga masuk. Bau semen di baju. Wajah lelah.

Nisa berdiri. Ambil handuk. “Sudah pulang?”

Suaranya biasa. Tidak tinggi. Tidak tajam.

Justru itu yang membuat dada Arga sakit.

“Iya.” Ia lepas sepatu. “Maaf. Tadi ada barang datang telat.”

Nisa angguk. Ambilkan air. “Cuci tangan dulu, Mas. Makan.”

Tidak tanya kenapa tidak kabari. Tidak bilang “aku khawatir”.

Ia buka tudung. Nasi dingin. Sayur dingin.

Arga duduk. Suap pertama, keras. Tenggorokan seret.

 

Lihat selengkapnya