"Orang miskin tidak berhenti bermimpi. Mereka hanya belajar bermimpi sambil tetap bekerja."
Toko Bima
Pagi. Matahari belum tinggi. Udara masih dingin, bau karat dan semen.
Bima tarik kursi kayu. Duduk. Di depannya, buku besar. Sampulnya cokelat, pinggirnya mengelupas. Ia buka halaman terakhir. Kolom-kolom angka. Tinta biru, hitam, merah.
“Ga, sini,” panggilnya.
Arga letakkan sapu. Lap tangan ke celana. Mendekat.
Bima dorong buku itu. “Hitung.”
Arga duduk. Ambil pulpen. Tangannya kapalan, tapi pegang pulpen hati-hati. Ia baca satu-satu. Stok masuk. Stok keluar. Harga beli. Harga jual. Sisa.
Dulu, ia cuma angkat sak. Sekarang, ia lihat kenapa sak itu harus habis sebelum hujan.
“Untung bukan dari banyak jualan,” kata Bima. Ia seruput kopi, pahit. “Untung dari bocor yang ditutup. Dari barang mati yang tidak numpuk. Dari catatan yang tidak bohong.”
Arga angguk. Tulis. Paku habis cepat, untung tipis. Cat habis lama, untung tebal.
Di kepalanya, ada yang kebuka. Bukan pintu toko. Pintu pikiran.
Ia bukan lagi kuli. Ia murid.
Perjalanan Pulang
Sore. Langit jingga. Debu beterbangan.
Arga jalan kaki. Lewat jalan kecil. Di kiri, selokan. Di kanan, rumah petak.
Lalu ia lihat. Ruko satu pintu. Cat biru, mengelupas seperti kulit terbakar. Pintu besi, karatnya merambat. Kaca depan pecah, ditutup triplek. Di atas, tulisan: Dikontrakkan. Hub: 0812...
Nomornya pudar.
Kakinya berhenti. Sendiri.
Ia tidak masuk. Tidak tanya harga. Hanya berdiri. Menatap.
Di dalam kepala, suara muncul. Pelan. Bagaimana rasanya kalau suatu hari aku punya tempat usaha sendiri?
Tidak ada jawab. Hanya sepert angin yang membawa sebuah bungkus mie lewat.
Ia senyum. Kecil. Untuk dirinya sendiri.
Lalu jalan lagi. Tapi bayangan ruko biru itu ikut. Nempe di punggung.
Malam di Kontrakan
Nasi di meja. Tempe goreng. Sayur bening.
Lampu lima watt. Tikar digelar.
Arga suap nasi. Kunyah pelan. Lalu cerita. “Tadi lewat ruko kosong, Nis.”
Nisa tuang air. “Yang mana?”
“Yang biru. Deket belokan. Catnya ngelotok.”
Nisa angguk. “Kenapa?”
Arga garuk kepala. “Tidak apa-apa. Cuma... kepikiran.”
Ia cepat tambah, “Masih terlalu jauh.”
Nisa tidak ketawa. Tidak bilang ngimpi.
Ia letakkan gelas. Tatap Arga. “Kalau belum bisa punya ruko, apa yang bisa kita mulai dari rumah?”
Kalimat itu pendek. Tapi belokkan arah.
Arga letakkan sendok. Pikir. “Jualan... apa ya?”
“Yang orang perlu tiap hari,” kata Nisa. “Beras. Gula. Minyak. Sabun.”
“Sembako?”
Nisa angguk. “Mulai dari teras. Satu rak. Dua toples.”
Di luar, lampu teras menyala. Kuning. Seperti ide yang baru lahir.