"Tidak semua anak mewarisi harta. Sebagian mewarisi nama baik, tanpa pernah menyadari betapa mahal nilainya."
Toko Bima
Pagi. Hujan semalam meninggalkan bau tanah di rak semen.
Bima berdiri di depan kasir. Di tangannya, map tua. Kulitnya pecah, sudutnya melengkung. Tali pengikatnya sudah getas.
Ia tatap Arga. Lama. Seperti menimbang.
“Aku menunggu sampai kau benar-benar memahami arti dipercaya,” katanya.
Map itu diserahkan. Tidak dilempar. Tidak disodorkan. Diletakkan di dua tangan Arga, pelan, seperti menyerahkan bayi.
Arga terima. Beratnya aneh. Tidak seperti kertas. Seperti waktu.
Ia tidak buka. Belum.
Di luar, motor lewat. Air menggenang di jalan.
Rumah
Malam. Lampu lima watt. Angin masuk dari celah jendela.
Meja kayu dibersihkan. Tidak ada piring. Tidak ada gelas. Hanya map itu.
Nisa duduk di samping. Tidak tanya. Tidak desak. Hanya tunggu.
Arga tarik talinya. Getas. Putus di jari.
Ia buka. Pelan.
Aroma kertas tua keluar. Bau debu, bau waktu
Di atas, foto. Hitam putih. Tiga lelaki muda. Bahu saling rangkul. Kemeja lusuh. Di belakang, kios setengah jadi. Papan tulis kapur: Toko Harapan.
Kiri, Hasan. Muda. Kurus. Senyum tipis. Tengah, Bima. Rambut masih lebat. Kanan, Pak Rahman. Belum ada uban.
Jari Arga berhenti di wajah Hasan. Dan mulai bertanya kenapa ada foto pak Rahman juga.
Nisa letakkan tangan di punggung Arga. Tidak bicara. Tapi hangatnya sampai.
Arga tahan napas. Rindu, tiba-tiba nyata.
Surat-Surat Lama
Di bawah foto, tumpukan kertas. Nota. Bon. Coretan.
Tidak ada puisi. Tidak ada pidato.
17 Agustus 1998. Beli semen 5 sak. Utang Pak RT. Bayar nyicil.
3 September 1998. Catat: Jangan ambil untung dari orang susah.
Rencana: buka Toko Harapan. Modal patungan. Hasan, Bima, Rahman.
Angkanya kecil. Tiga ratus ribu. Lima ratus ribu.
Tapi di pinggir, ada catatan tangan Hasan: Kalau gagal, jangan ikut jatuh.
Arga baca lagi. Lagi.
Ia berfikir,Hasan bukan orang kalah. Hanya seorang yang memilih.
Ia tutup mata. Sekarang ia tahu, Hasan miskin karena tidak mau kaya dengan cara salah.
Cerita Bima
Pintu diketuk. Pelan.
Bima masuk. Bawa teh dalam plastik. Tidak duduk. Berdiri di pintu.
“Aku dengar kau sudah buka,” katanya.