LOVE IS 5000

GAZALI
Chapter #24

BAB 24 - Langkah Pertama

 

"Warisan ayahnya tidak memberinya uang untuk memulai. Warisan itu memberinya keberanian untuk mencoba."

 

Toko Bima

Pagi. Lampu baru dinyalakan. Bau cat dan karung goni masih menggantung.

Arga sapu lantai. Debu naik, tipis. Ia lap etalase. Susun paku. Tulis stok.

Tapi tangannya tidak setenang biasanya. Matanya sering ke luar. Ke jalan. Ke langit.

Bima datang, bawa kopi. Dua gelas. Satu disodorkan. “Kenapa?”

Arga terima. Hangat. “Tidak apa-apa, Pak.”

Bima duduk di semen. “Ada mimpi yang mulai mengganggumu, ya?”

Arga menoleh. Kaget. Ia tidak cerita. Tapi Bima tahu.

Ia senyum. Tipis. “Iya.”

Bima seruput kopi. “Bagus. Mimpi yang tidak ganggu, itu mimpi mati.”

Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada larangan. Hanya kalimat itu.

Tapi cukup.

 

Malam di Kontrakan

Lampu lima watt. Tikar digelar. Di meja, nasi. Ikan asin satu. Sambal.

Nisa tuang teh. Duduk.

Arga suap nasi. Kunyah lama. Lalu taruh sendok.

“Nis,” panggilnya.

Nisa angkat wajah.

“Aku... mau buka usaha sendiri.”

Hening.

Bukan karena kaget. Karena berat.

Arga cepat lanjut. “Kecil. Dari rumah. Titip barang dari toko Pak Bima. Jual ke tetangga. Tidak sewa ruko. Tidak utang bank.”

Ia tunduk. “Aku takut gagal. Takut... ngecewain kamu.”

Nisa diam. Ambil napas. Lalu genggam tangan Arga. Kasar. Kapalan.

“Dulu Mas juga takut bawa pulang lima ribu,” katanya. Pelan. “Takut aku kecewa.”

Arga angkat wajah.

“Tapi kita bisa lewat hari itu.” Nisa senyum. “Kenapa sekarang tidak?”

Kalimat itu tidak beri modal. Tidak beri ruko.

Tapi beri berani.

Malam itu, nasi habis. Karena dimakan dengan harapan.

 

Rumah Pak Rahman

Sore. Langit mendung.

Pak Rahman di teras. Di sampingnya, kotak kayu. Dibuka.

Di dalam, timbangan besi. Tua. Karat di sudut. Tapi jarumnya masih utuh. Di bawahnya, kain lap. Bersih.

Ia angkat timbangan itu. Berat.

“Ayahmu tidak sempat memakainya,” katanya. “Toko Harapan tidak pernah buka.”

Ia serahkan ke Arga. Dua tangan.

“Mungkin memang bukan untuk dia.”

Arga terima. Dingin di telapak. Tapi sampai ke dada.

Lihat selengkapnya