"Yang paling berat dari membuka usaha bukan ketika rugi. Yang paling berat adalah menunggu pelanggan yang tidak kunjung datang."
Pagi
Langit masih abu. Embun belum kering di seng.
Arga buka pintu toko. Engsel berderit. Suara itu sekarang jadi alarm.
Ia sapu halaman. Debu semalam dikumpulkan, dibuang ke selokan. Rak dilap. Timbangan besi tua ditaruh di tengah. Amplop Rezeki Pertama di laci, sebelah buku penjualan.
Papan nama Toko Harapan digantung. Miring sedikit. Cat birunya belum kering sempurna. Tangannya gemetar waktu pasang paku.
Jam tujuh. Semua siap.
Jam delapan. Jalan lengang.
Jam sembilan. Kucing lewat. Tidak beli semen.
Arga duduk di kursi kosong depan toko. Kayu, tiga kaki. Satu kaki diganjal batu. Ia tatap jalan. Motor lewat. Tidak berhenti.
Di buku penjualan, halaman satu masih putih.
Siang
Matahari di atas kepala. Panas. Aspal mengilat.
Nisa datang. Bawa rantang. Kain penutupnya biru.
Ia tidak tanya “laku berapa”. Tidak lihat laci.
Ia buka rantang. Nasi. Tempe. Sambal. “Makan dulu, Mas.”
Mereka duduk di kursi kosong. Satu kursi, berdua. Mepet.
Makan pelan. Tidak ada pelanggan yang dilayani. Hanya suara sendok. Suara motor jauh.
Nisa tidak bicara. Arga juga.
Keheningan lebih berat dari rugi.
Tapi rantang habis. Karena dimakan bersama.
Sore
Bayangan mulai panjang.
Langkah kaki. Seorang bapak. Kaos lusuh. Celana kena semen.
“Mas, ada paku triplek? Setengah ons saja.”
Arga berdiri. Cepat. “Ada, Pak.”
Ia timbang. Bungkus koran. “Seribu lima ratus.”
Bapak itu rogoh saku. Keluar uang lecek. Dua ribu.
“Kembaliannya buat Mas.”
Arga geleng. Ambil koin lima ratus dari kaleng. “Hak Bapak.”
Ia antar sampai pagar. Bapak itu naik sepeda, bawa paku. Sebelum pergi, nengok. “Makasih ya. Enak belanja di sini. Tidak judes.”
Motor hilang di tikungan.
Arga balik. Duduk lagi. Di buku, ia tulis: 1 Juli. Paku triplek 0,5 ons. 1.500. Pelanggan: Bapak sepeda.
Untungnya? Lima ratus.
bukan.
Tapi senyum bapak itu, tidak ada harganya.
Buki Itu
Buku penjualan dibuka.
Satu baris.
Arga hitung modal. Hitung listrik. Hitung tenaga.