"Pelanggan pertama mungkin datang karena penasaran. Pelanggan kedua datang karena percaya."
Pagi di Toko Harapan
Pagi. Kabut tipis di depan toko.
Pintu besi digulung. Suaranya kasar, bangunkan merpati di kabel.
Arga lap timbangan tua. Kainnya basah. Karat di pinggir diusap, tidak hilang, tapi bersih. Di sampingnya, amplop Rezeki Pertama. Di laci. Tidak dipajang. Tidak disentuh. Hanya ada.
Dari jalan, mobil hitam berhenti. Sama seperti kemarin.
Pintu dibuka. Pria itu turun. Kemeja rapi. Dasi tidak ada. Tapi wibawa ada. Di tangan, map tebal.
Ia masuk. Bau cat baru di toko kecium.
Arga berdiri. “Selamat pagi, Pak.”
Pria itu angguk. Taruh map di meja. Buka. Kertas-kertas. Daftar panjang. Semen. Pasir. Besi. Cat. Triplek. Paku.
“Renovasi rumah,” katanya. “Totalnya segini.”
Arga lihat angka. Tiga nol di belakang. Lebih banyak dari seluruh isi kaleng biskuit di rumah. Lebih banyak dari gaji Bima sebulan.
Jantungnya lari. Tangannya dingin.
Tapi ia tidak angguk. Tidak janji.
“Boleh saya hitung dulu, Pak?”
Pria itu kaget. Sedikit. “Biasanya orang langsung bilang sanggup.”
Arga senyum. “Saya tidak biasa bohong, Pak.”
Ia ambil buku stok. Tulis. Coret. Telepon Bima. “Pak, ada proyek. Segini. Saya sanggup tidak?”
Bima di ujung, diam sebentar. Lalu jawab, “Hitung. Kalau kurang, ambil dari toko. Bayar nyicil.”
Bukan uang. Kepercayaan.
Arga tutup telepon. Tatap pria itu. “Bisa, Pak. Tapi bertahap. Tiga kali antar. Saya tidak mau barang telat.”
Pria itu lama menatap. Lalu ulurkan tangan. “Setuju.”
Jabat tangan. Kasar. Kuat.
Di buku piutang, halaman baru dibuka. Tulisannya rapi. Tanggal. Nama. Jumlah.
Di pergelangan Arga, jam ayahnya. Kulitnya retak. Tapi detiknya jalan.
Toko Bima
Siang. Bima susun sak semen.
Arga cerita. Tunjuk buku. “Segini, Pak.”
Bima baca. Lalu ketawa. “Kau tahu kenapa aku percaya?”
Arga diam.
“Karena tadi kau tidak langsung bilang sanggup.” Bima tepuk pundak Arga. “Orang jujur takut mengecewakan. Orang serakah takut kehilangan.”
Ia tarik nota. Tanda tangan. “Hantarkan barangnya , saya akan bayar lunas seuai barang yang diantar.”
Arga tunduk. “Makasih, Pak.”
Di luar, langit terang.
Pengiriman Pertama
Sore. Mobil bak sewaan. Baknya tinggi. Terpal biru.
Arga di belakang. Pegang tali. Debu di mata. Keringat di kening.
Sampai lokasi. Rumah besar. Pagar tinggi. Tukang-tukang berhenti kerja, lihat.
Barang turun. Satu-satu. Dihitung. Semen. Pasir. Besi.
Mandor proyek cek. Tiba-tiba tunjuk. “Ini. Robek.”
Satu sak semen. Sudutnya sobek. Isi keluar sedikit.
Arga lihat. Tidak debat. Tidak bilang “dari pabrik”.
Ia angkat. Taruh pinggir. “Saya ganti, Pak. Besok saya bawa yang baru.”