"Mereka belum menjadi keluarga yang kaya. Tetapi untuk pertama kalinya, mereka merasa cukup."
Pagi
Toko Harapan buka jam enam.
Arga tidak sendiri. Di belakang, pemuda tetangga. Namanya Deni. Sembilan belas. Celana sobek, sendal jepit. Dulu kerja serabutan.
“Mulai hari ini kau bantu,” kata Arga. “Paruh waktu. Upah harian. Kalau ramai, nambah.”
Deni kaget. “Saya, Mas?”
Arga angguk. Ingat dulu Bima bilang saya. Ingat dulu ia cuma kuli.
“Aku dulu juga diberi kesempatan.”
Deni senyum. Lebar. Gigi depan bolong satu.
Pelanggan datang. Satu. Dua. Tiga. Kebanyakan bawa nama. “Kata Pak Karno, di sini jujur.” “Kata Bu Ijah, pemiliknya enak.”
Toko kecil. Tapi hidup.
Di dinding, papan Toko Harapan. Cat biru. Masih miring. Tapi
tidak ada yang protes.
Memperbaiki Atap
Siang. Arga naik tangga. Genteng di tangan. Palu di pinggang.
Nisa di bawah. Pegang tangga. “Hati-hati, Mas.”
Dulu, tiap hujan, ember di lantai. Tung. Tung. Tung. Malam tidak tidur. Takut kasur basah.
Sekarang, genteng baru. Semen. Talang.
Sore, hujan turun. Deras.
Mereka duduk di tikar. Tidak lari ambil ember. Tidak geser kasur.
Hanya dengar. Srak. Srak. Srak. Air di genteng, langsung ke tanah.
Nisa lihat ke atas. Tidak bocor.
Ia senyum. “Rupanya suara hujan bisa seindah ini.”
Arga tidak jawab. Hanya lihat wajah istrinya. Basah oleh senja,
bukan oleh air.
Hadiah untuk Nisa
Malam. Arga pulang bawa kardus.
Nisa buka. Kompor gas. Dua tungku. Merek biasa. Tapi baru.
Nisa kaget. “Mas... kenapa beli ini?”
Arga taruh di meja. Lepas kompor lama. Hitam. Penyok. Sering mati tengah masak.
“Biar tanganmu tidak capek lagi meniup api.”
Nisa diam. Lalu maju. Peluk Arga. Erat. Lama.
Tidak ada kalung. Tidak ada cincin.
Tapi di dada Arga, hangatnya lebih mahal.
Malam itu, nasi goreng matang tanpa asap di mata.
Makan Malam
Meja kayu. Lampu lima watt diganti sepuluh watt. Terang.
Ayam goreng satu. Sambal. Lalap.
Arga suap nasi. Kunyah pelan.
“Dulu aku takut pulang karena cuma membawa lima ribu,” katanya.
Nisa letakkan sendok. Tatap suaminya.
“Aku tidak pernah menghitung jumlahnya,” jawabnya. Suaranya kecil. Tapi jelas. “Aku selalu menghitung langkah Mas untuk pulang.”