"Tidak ada yang tahu bahwa pagi itu akan menjadi pagi terakhir mereka sebagai suami dan istri."
Subuh
Pukul empat lebih sepuluh. Langit masih tinta.
Arga bangun. Tidak pakai alarm. Badannya tahu jam. Ia duduk di pinggir kasur. Tarik napas. Panjang.
Di meja, jam tangan ayahnya. Kulitnya retak. Kaca buram. Ia ambil. Pasang di pergelangan kiri. Klik. Kecil. Tapi terdengar.
Nisa masih tidur. Selimut menutup bahu. Rambut menutupi pipi.
Arga benarkan selimut itu. Pelan. Ujung jarinya sentuh kain. Hangat.
Ia tunduk. Cium kening Nisa. Lama.
Nisa bergerak. Mata setengah buka. “Pulang cepat ya, Mas.”
Arga angguk. Senyum. “Insyaallah.”
Ia ambil kunci motor. Dompet. HP.
Pintu dibuka. Tidak berderit. Ia sengaja minyaki kemarin.
Pintu ditutup. Pelan. Klik.
Tidak ada musik. Tidak ada firasat. Hanya ayam jauh berkokok.
Proyek
Jam enam. Lokasi proyek. Rumah tingkat. Setengah jadi. Bata merah. Besi berserakan.
Mandor teriak. “Semen datang!”
Bak sewaan masuk. Arga di belakang. Lompat turun. Baju sudah basah.
Ia angkat sak. Satu. Dua. Sepuluh. Punggungnya ingat rasa ini.
Pekerja lain lihat. Satu orang, muda, berhenti. “Bos kok ikut kerja?”
Arga taruh sak. Lap kening. “Karena aku juga pernah jadi kuli.”
Tidak ada pidato. Tidak ada sorak. Hanya kerja.
Mandor catat. “Lengkap, Ga. Tidak kurang.”
Arga angguk. “Alhamdulillah.”
Jam sebelas. Selesai.
Ia terima amplop. Tebal. Tidak dihitung di situ. Dimasukkan ke tas. Ritsleting ditutup.
Sebelum Pulang
Tenggorokan kering. Ia mampir warung. Seng. Kursi plastik.
“Air putih satu, Bu.”
Ibu warung ambil dari termos. “Lima ribu, Mas.”
Arga buka dompet. Keluarkan sepuluh ribu.
Kembalian. Satu lembar. Lima ribu.
Ia terima. Biasa.
Tapi matanya berhenti. Di pojok atas
Ada gambar senyuman , ia merasa sangat tidak asing dengan gambar itu.
Tangannya diam.
Ia ingat. Di rumah, di laci, amplop Rezeki Pertama. Di dalamnya, lima ribu. Nomornya pernah ia lihat. Waktu pertama kali nikah. Waktu ia gemetar kasih ke Nisa.
Mirip. Sangat mirip.
Jantungnya detak aneh.
“Aneh...” bisiknya.
Ibu warung nengok. “Kenapa, Mas?”
Arga senyum. Cepat. “Tidak apa-apa, Bu. Makasih.”
Ia lipat uang itu. Rapi. Masukkan ke dompet. Paling depan. Bukan di belakang.
Ia naik motor. Stater. Sekali. Hidup.