"Ada surat yang ditulis seorang ayah untuk anaknya. Tetapi yang pertama kali membacanya justru adalah menantunya."
Pagi datang tanpa suara.
Rumah itu masih berdiri seperti kemarin.
Namun rasanya berbeda.
Tidak ada lagi suara sandal yang diseret menuju kamar mandi.
Tidak ada lagi suara Arga membuka pintu dapur sambil bertanya apakah kopi sudah dibuat.
Yang terdengar hanya detak jam dinding.
Pelan.
Teratur.
Seolah tidak peduli bahwa seseorang baru saja meninggalkan rumah itu untuk selamanya.
Nisa duduk di tepi ranjang.
Matanya bengkak.
Bukan karena semalam menangis.
Melainkan karena semalaman ia tidak tidur.
Di gantungan dekat pintu, kemeja putih Arga masih tergantung.
Lengan kirinya sedikit terlipat.
Persis seperti terakhir kali ia melepaskannya setelah pulang bekerja.
Nisa berdiri.
Tangannya terulur.
Jari-jarinya menyentuh ujung kain itu.
Masih ada aroma sabun.
Masih ada sedikit bau matahari.
Dan entah mengapa...
Itu membuat dadanya semakin sesak.
Di bawah gantungan, sepatu kerja Arga masih menghadap ke pintu.
Seolah pemiliknya hanya sedang keluar sebentar.
Di atas meja kayu, sebuah helm hitam terbaring diam.
Di dalamnya tersimpan jam tangan Ayah arga.
Kaca jam itu retak.
Jarumnya berhenti di pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit.
Tidak pernah bergerak lagi.
Pintu rumah belum dikunci sejak kemarin.
Beberapa tetangga sempat menawarkan bantuan.
Nisa hanya mengangguk.
Namun setelah semua pulang, ia membiarkan pintu itu tetap terbuka.
Barangkali...
Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih berharap Arga akan masuk sambil berkata,
"Maaf pulang terlambat."
Harapan yang ia tahu tidak akan pernah terjadi.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan pelan memecah kesunyian.
Nisa berjalan membuka pintu.
Pak Rahman berdiri di sana.
Baju koko putihnya tampak kusut.
Sorot matanya lelah.
Di tangan kanannya tergenggam sebuah amplop cokelat yang tersegel lak merah.
Ia mengembuskkan napas panjang sebelum berbicara.
"Maaf, Nisa."
Hanya itu.
Namun suara yang bergetar membuat permintaan maaf itu terasa jauh lebih berat.
Pak Rahman mengangkat amplop tersebut.
"Ini titipan Hasan."
Nisa menatap amplop itu tanpa berkedip.
"Seminggu sebelum beliau meninggal, beliau datang ke rumah saya."
Pak Rahman menelan ludah.
"Beliau bilang..."
Kalimatnya terhenti.
Seolah ada sesuatu yang sulit diucapkan.
"'Kalau aku tidak sempat memberikannya kepada Arga... tolong kau yang menyerahkan.'"
Pak Rahman tersenyum pahit.
"Tapi ternyata..."
"Aku juga terlambat."
Nisa menerima amplop itu dengan kedua tangan.
Lak merah di bagian belakangnya masih utuh.
Belum pernah dibuka.
Belum pernah sampai kepada orang yang namanya tertulis di bagian depan.
Untuk Arga.
Tulisan tangan Hasan.
Rapi.
Sederhana.
Sama seperti orangnya.
Pak Rahman menatap ruang tamu yang sunyi.
Matanya berhenti pada kemeja putih yang masih tergantung.
"Lelaki baik..."
gumamnya pelan.
"Selalu lahir dari ayah yang baik."
Ia mengusap sudut matanya.
Lalu berbalik.
Tidak ada lagi yang sanggup ia katakan.
Menjelang siang.
Suara motor berhenti di depan rumah.
Bima turun sambil membawa sebuah kotak kayu tua.
Kotak itu tidak besar.
Warnanya mulai kusam.
Namun pengait kuningannya masih mengilap.
"Aku menemukannya di lemari Hasan."
Ia meletakkan kotak itu di atas meja.
"Beliau pernah bilang..."
"Kalau terjadi apa-apa, kotak ini untuk Arga."
Bima membuka pengaitnya.
Engsel kecil berbunyi lirih.
Di dalamnya tersimpan beberapa benda.
Foto Hasan ketika masih muda.
Bajunya sederhana.
Senyumnya tipis.
Di bawahnya ada foto lain.
Arga kecil.
Mungkin baru berusia tujuh tahun.
Ia duduk di atas bahu Hasan sambil tertawa lepas.
Di belakang mereka, pasar desa tampak ramai.
Nisa tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman.
Namun senyum itu segera memudar.
Di dasar kotak terdapat sebuah buku nota tua.
Sampul cokelatnya mulai mengelupas.
Sudut-sudutnya penuh bekas lipatan.
Bima menyerahkannya kepada Nisa.
"Itu buku catatan Hasan."
Nisa membukanya perlahan.
Halaman pertama berisi daftar belanja.
Halaman berikutnya berisi pengeluaran rumah tangga.
Harga beras.
Harga minyak.
Biaya sekolah Arga.
Semua dicatat dengan sangat rapi.
Lalu ia berhenti pada satu halaman yang diberi pembatas dari potongan koran lama.
Tulisan Hasan tampak lebih pelan.
Seolah setiap katanya dipikirkan baik-baik.
15 Mei 1998
Hari ini Arga genap tujuh tahun.
Aku memberinya satu lembar uang lima ribu.
Sebelum kuselipkan ke tangannya, aku menggambar wajah kecil yang sedang tersenyum di sudut uang itu.
Ia bertanya kenapa aku mencoret uang.
Aku bilang...
"Supaya kalau suatu hari kau melihatnya lagi, kau ingat bahwa selalu ada alasan untuk tersenyum."
Ia bertanya lagi kenapa uang itu tidak boleh dipakai.
Aku hanya tertawa.
"Karena ini bukan hadiah."
"Ini pengingat."
Suatu hari nanti hidup pasti mengajarinya bahwa mencari rezeki tidak selalu mudah.
Semoga saat hari itu datang...
Ia masih menyimpan uang ini.