"Ada orang yang meninggalkan rumah. Ada orang yang meninggalkan harta. Arga meninggalkan cara mencintai."
Lima Tahun Kemudian
Toko Harapan tidak besar. Tidak di ruko. Masih di teras. Tapi catnya baru. Biru, rata. Hurufnya tidak miring lagi.
Di dalam, rak kayu. Rapi. Barang lengkap. Dari paku sampai ember. Dari semen sampai sapu.
Pelanggan datang. Tidak antre panjang. Tapi tidak pernah sepi.
Di dinding, foto. Arga dan Nisa. Latar putih. Saling tatap. Di bawahnya, tulisan kecil di kayu: Usaha yang dihargai akan menjadi berkah.
Orang yang baca, diam sebentar. Lalu senyum.
Di etalase kaca kecil, jam tangan Hasan. Kulit retak. Kaca pecah. Jarum berhenti di 11.47. Di bawahnya, kertas: Waktu bisa berhenti. Nilai tidak.
Nisa
Sore. Nisa di kasir. Buku penjualan dibuka. Pulpen biru. Tulisannya rapi.
12 Okt. Paku 2 kg. 28.000. Bu Marni.
12 Okt. Cat 1 kg. 35.000. Pak RT.
Sekecil apa pun, ditulis.
Jam lima, toko sepi. Nisa tarik laci paling atas.
Di dalam. Amplop Rezeki Pertama. Lima ribu. Lembar lemas.
Surat Hasan. Lipatan rapi.
Uang lima ribu terakhir dari dompet Arga. Lipatan sama.
Foto kecil. Arga. Kemeja putih. Senyum tipis.
Ia tidak buka. Tidak pegang. Hanya lihat. Pastikan ada.
Lalu tutup laci. Pelan.
Kenangan bukan untuk ditangisi tiap hari. Untuk dijaga.
Anak Mereka
Langkah kecil. Sendal karet.
Raka. Lima tahun. Rambut ikal. Mata bundar. Mirip Arga.
Ia lahir tujuh bulan setelah ayahnya pergi. Tidak pernah dengar suara Arga. Tidak pernah gendong.
Tapi tiap malam, dengar cerita.
Sore ini, ia bantu lap rak. Kainnya kebesaran.
Ia buka laci. Iseng.
Tangannya tarik amplop. Buka. Lima ribu. Kusam.
Ia angkat. Tatap Nisa. “Bu... kenapa uang ini kusam sekali?”
Nisa berhenti tulis nota. Letakkan pulpen.
Ia tarik kursi kayu. Duduk. Pangku Raka.
Cerita Dimulai Lagi
Di depan toko. Angin sore. Lampu teras belum nyala.
Nisa mulai. Pelan.
“Dulu, ayah pulang bawa uang ini dan Ayahmu malu.”