Love is a Battlefield - Teman Hidup

Wnath
Chapter #1

Bab 1

Mata Maina terpejam, berusaha menahan nyeri di telapak kaki kiri yang terkena pecahan cangkir. Wanita yang tetap cantik meski telah berusia matang itu masih memejamkan mata ketika asisten rumah tangga datang membawa kotak obat.

“Bu, biar saya bantu obati,” kata Mbok Nar, wanita yang sudah puluhan tahun bekerja pada Maina.

“Aku obati sendiri aja, tolong bantu beresin aja, Mbok,” balas Maina sambil membuka mata.

Meski Mbok Nar bersikeras ingin mengobati, Maina tetap mengambil kotak obat. Terpincang-pincang menaiki tangga lalu masuk kamar untuk meredakan nyeri di kakinya.

Namun, rasa sakit dari kaki itu malah menjalar ke sekujur tubuh Maina lalu terperangkap di hati, menyesakkan dada. Apalagi saat mata dari wanita berambut hitam sebahu itu berkeliling menatap kamar yang sunyi, dada Maina semakin sesak.

“Mai, aku mencintaimu, nggak ada yang berubah. Ini hanyalah roda kehidupan yang harus kita lewati. Aku nggak mau mengkhianatimu, karena itu izinkanlah aku menikah lagi dengan Lira.”

Saat teringat suara permohonan suaminya, mata Maina spontan menatap cermin, mencoba mencari kekurangan diri yang membuat suaminya memutuskan menikah lagi.

Bila dibandingkan dengan wanita seusianya, fisik Maina jauh di atas rata-rata. Tubuh dan wajahnya terawat, penampilannya juga masih memesona. Secara seksual pun, Maina masih menggoda dan masih mampu memuaskan hasrat suaminya.

“Nggak ada yang kurang dari kamu, Mai. Semua ini tentang kebutuhan pria yang sulit kujelaskan. Aku mencintaimu, tapi saat ini aku juga menyayangi Lira. Izinkan kami menikah, aku akan bersikap adil pada kalian.”

Rasa sakit di dada Maina masih sama seperti ketika pertama kali mendengar suara lembut Rudi yang meminta izin menikahi karyawatinya yang berusia 27 tahun. Tak hanya di depan Maina, Rudi mengumumkan keputusannya di depan kedua anak mereka, Arby si sulung dan Arra, si bungsu.

“Kami nggak pernah selingkuh. Sungguh nggak pernah, Mai. Aku juga nggak mau berzina, jadi kumohon restui kami.”

Saat itu mata Maina basah, bagai sungai kecil, air mengalir di pipinya yang masih mulus. Di usia 45 tahun, wajahnya terlihat tetap cantik dan menawan, tapi Rudi sang direktur di dua perusahaan itu tetap ingin mengambil karyawannya sebagai istri kedua.

Dengan jujur Rudi mengatakan dirinya tertarik pada Lira yang cekatan, cantik, pekerja keras dan baik. Rudi sadar ketertarikannya mengarah pada kekaguman dan berujung pada pemujaan. Menolak mengendalikan diri, Rudi justru hanyut dalam pesona perempuan muda yang usianya tak jauh dari Arby.

Dalam keadaan sadar, Rudi mulai memberi perhatian pada Lira, perempuan yang belum pernah menikah karena terlalu sibuk menjadi tulang punggung keluarga. Berulang kali Rudi membantu kesulitan hidup Lira hingga mereka semakin dekat.

Gayung bersambut, Lira menerima tawaran Rudi yang ingin menjadikan Lira sebagai wanita kedua dalam hidupnya. Alasan penerimaan Lira karena Rudi sangat baik dan sering membantu kesulitannya.  

“Asal bukan sebagai perusak rumah tangga, saya mau menjadi istri Bapak.”

Lampu hijau yang diberikan Lira membuat Rudi memberanikan diri mengumpulkan keluarga untuk jujur mengutarakan keinginannya.

“Aku ingin membantu Lira karena kuakui aku menyukainya, tapi aku nggak mau mengkhianatimu. Aku tetap mencintaimu, Mai. Aku mencintai kalian berdua,” kata Rudi menenangkan Maina yang menangis.

Tak pernah Maina menduga akan dimadu oleh Rudi yang dia cintai sepenuh hati. Dua puluh enam tahun mengabdi sebagai istri setia menemani Rudi berproses menjadi seorang direktur kaya raya, tak pernah sekali pun Maina mengira kalau suami yang dia hormati akan berpindah ke lain hati.

Maina tak ingin mengungkit pengorbanannya menciptakan keluarga bahagia, tapi saat Rudi mengatakan telah mencintai wanita lain, semua kenangan pengorbanan itu menyeruak menyesakkan dada.

Demi menuruti permintaan ayah Rudi yang sekarat, Maina rela dinikahi meski masih kuliah. Di usia 19 tahun, Maina pontang-panting menjadi mahasiswi sekaligus mengurus rumah tangga.

Pindah dari satu daerah ke daerah lain dijalani Maina dengan ikhlas demi mendukung karir Rudi. Banyak kesulitan yang mereka jalani di awal pernikahan, tapi Maina selalu bersyukur karena Rudi menyayangi keluarga.

Sesibuk apa pun pria itu, Rudi tak pernah lupa menelpon Maina, mengucapkan ulang tahun, memberi kalimat cinta, juga tak segan membantu pekerjaan rumah. Semua sikap bertanggung jawab Rudi menepis penyesalan Maina yang tak bisa menemani hari-hari terakhir ibu yang sakit karena mereka sedang tinggal di kota kecil yang butuh waktu berjam-jam untuk tiba di ibu kota.

Ibu Maina sudah meninggal ketika Maina datang, menyusul ayahnya yang lebih dulu meninggal setahun sebelumnya. Setelah menjadi yatim piatu, Maina semakin tenggelam mengabdikan hidup pada Rudi yang dia yakini mencintainya sepenuh hati.

Kini Maina tak yakin cinta itu masih sama. Apalagi saat mendengar sanjungan untuk Lira yang tak malu Rudi sampaikan pada Maina.

“Lira bukan perempuan matre. Dia nggak pernah minta macam-macam. Dia tulus kok menyayangi aku. Dia juga menghormati kamu.”

“Nggak matre, tapi kalau kamu miskin, apa dia mau dinikahi lelaki tua berkeluarga, Mas?”

“Mai, jangan analogikan seperti itu. Situasinya kami bertemu saat kondisiku memang begini. Jangan berprasangka pada Lira!”

Hancur hati Maina, tapi masih mencoba bertahan. Maina tak mau memberi celah orang ketiga dalam rumah tangganya. Namun, saat Maina berencana membuat Rudi memilih antara dirinya dan Lira, Arby dan Arra berpikir berbeda.

“Papa cinta banget sama Mama, paling itu hanya puber cinta sesaat. Turuti aja kemauan Papa, bersabar sebentar aja, Ma. Arby tebak, mereka akan segera bercerai.”

Hiburan yang diucapkan Arby tak membantu menghilangkan sesak di dada Maina. Apalagi ketika mendengar ucapan Arra yang juga mendukung Rudi.

“Papa kan udah minta izin, Papa nggak selingkuh. Ayolah, Ma, terima aja Mbak Lira. Arra yakin, Papa nggak akan mengecewakan kita. Papa akan tetap menyayangi kita. Mama akan mendapat pahala karena mencegah perzinahan. Maklumilah kebutuhan Papa, Ma.”

Saat mendengar saran kedua anaknya, Maina merasa semakin sakit karena menyadari mereka  lebih memikirkan kepentingan Rudi daripada perasaan Maina.

Mengapa harus dirinya yang memaklumi Rudi?

Dulu Maina sudah mengorbankan masa mudanya menemani Rudi dan membesarkan anak-anak. Maina kira masa tuanya akan dinikmati dengan kebahagiaan.

Tak pernah Maina menyangka kalau di usianya yang tak lagi muda justru harus dipaksa berbagi suami. Padahal, impian Maina adalah menikmati masa tua bersama Rudi yang telah dia pilih sebagai teman hidup.

Yang paling menyakitkan, kedua anaknya memaklumi kebutuhan Rudi tanpa bisa memaklumi penolakan Maina.

“Susah payah Ibu membesarkan mereka, kok Mas Arby dan Mbak Arra tega banget ngomong gitu sama ibunya? Mereka kok nggak mikirin perasaan ibu ya?”

Mata Maina kembali terpejam ketika mengingat suara Mbok Nar yang membahas kisruh rumah tangga Maina dan Rudi dengan ARTnya yang lain.

Maina pun merasakan hal yang sama. Tak bisa memahami mengapa kedua anak yang dia besarkan dengan pengorbanan berhenti mengejar karir justru bisa dengan mudah memaklumi tingkah egois Rudi.

Lihat selengkapnya