Love is a Battlefield - Teman Hidup

Wnath
Chapter #2

Bab 2

“Rudi bertanggung jawab, kehadiran anak mereka nggak akan memengaruhi statusmu. Rudi nggak akan mengurangi nafkah untukmu.”

Mata Maina terbuka kala mendengar suara Rina yang mencoba menghiburnya. Namun, alih-alih terhibur, Maina justru merasa sakit.

Nafkah materi yang diberikan Rudi untuknya memang tidak berkurang, justru semakin bertambah setiap hari seolah ingin memberi kompensasi atas kehamilan Lira yang di luar rencana.

Namun, nafkah batin yang diterima Maina jelas berkurang. Lira yang hamil membuat Rudi lebih sering tinggal bersama sang istri muda. Dengan alasan keselamatan serta menemani Lira memeriksakan kehamilan, Rudi semakin jarang pulang menjenguk Maina.

Rudi sedang terobsesi menjaga kehamilan Lira. Mengikuti perkembangan zaman, Rudi bahkan mengajak Lira melakukan pemotretan bersama hasil USG. Layaknya orang tua muda, Rudi berambisi menyiapkan berbagai keperluan calon bayi.

Jelas terlihat kebahagiaan di wajah Rudi yang merasa kembali muda karena akan menjadi ayah dari bayi kecil lagi. Segala bentuk perhatian dia curahkan pada calon bayinya.

Rudi tak sadar tingkahnya memperbesar rasa iri dan cemburu di hati Maina yang membandingkan sikap Rudi ketika dirinya mengandung Arby dan Arra. Dulu, Rudi yang masih muda tak memiliki banyak waktu mengurus kehamilan Maina karena fokus mengejar karir. Sementara kini Rudi yang telah mapan memiliki banyak waktu luang untuk menjaga Lira.

Seolah ingin mengganti masa mudanya dahulu yang memercayakan kehamilan hanya pada istrinya saja, kini Rudi lebih bebas mengekspresikan kebahagiaan dan keseriusanya mengurus kehamilan sang istri.

Tentu saja Lira sangat bahagia karena diperhatikan secara berlebihan, tapi di sisi lain ada Maina yang menderita sakit hati tak terkira.

“Mai, maafin aku kalau jarang pulang ya. Kasihan Lira kalau sering ditinggal, nggak ada orang di rumah. Takut kalau ada apa-apa,” kata Rudi ketika menemui Maina yang sedang demam.

Sudah dua hari Maina hanya berbaring, tapi tidak mengadu hingga Rudi tidak tahu keadaannya. Namun, Rudi langsung pulang ketika Arra memberitahu kalau ibunya sedang sakit.

“Jangan diam aja kalau sakit, Mai. Beritahu aku,” pinta Rudi ketika meninggalkan Maina lagi.

Melihat Maina sudah bisa bangun dari ranjang, Rudi langsung kembali ke rumah Lira lalu mengutus kakaknya untuk menemani Maina.

Bukannya merasa senang ditemani, Maina justru kesal akan kedatangan Rina yang terus membuatnya berusaha memaklumi Rudi. Dua hari dtemani, kekesalan Maina semakin menumpuk karena sang kakak ipar terus saja berusaha membuat Maina menerima kehamilan Lira.

“Rasanya kayak udah jadi janda,” gumam Maina sambil meraih cangkir untuk menyeruput teh.

Sorot mata Rina tampak tak suka mendengar keluhan sang adik ipar.

“Jangan begitulah, Mai. Kasihan Rudi kalau orang lain mendengarmu mengeluh. Kurang apa Rudi sama kamu?” tanya Rina dengan nada tak suka yang kentara.

“Secara materi nggak kurang apa-apa, tapi Mas Rudi kayak kelebihan kadar cinta sampai harus menyalurkannya ke wanita lain,” balas Maina menyindir.

“Kan kalian sudah sepakat. Janganlah mengungkitnya terus, nggak baik. Ikhlas biar bisa jadi jalan surgamu,” kata Rina sok menasihati.

“Lagipula cintanya Rudi ke kamu juga nggak berkurang loh. Seperti katamu, dia kelebihan kadar cinta dan hanya perlu menyalurkannya ke Lira. Ikhlas, Mai, Lira itu istri Rudi juga dan sedang hamil,” kata Rina lagi.

“Kenapa hanya aku yang harus ikhlas? Sebagai istri kedua, harusnya dia tahu kan posisinya bagaimana? Harusnya dia juga ikhlas menerima nasib ditinggalkan suami meski sedang hamil karena sejak awal dia tahu suaminya masih memiliki istri lain,” ucap Maina dengan sorot mata tajam, bukan mengarah pada Rina, tapi pada Rudi yang memelotot karena pria itu datang bersama Lira yang wajahnya langsung berubah.

“Kenapa harus aku yang terus dituntut ikhlas? Karena aku lebih tua?” tanya Maina sengaja mengarahkan pertanyaannya pada Rudi dan Lira.

“Mai ….”

“Mbak, maafkan aku,” ucap Lira menyela Rina yang terkejut karena baru menyadari kehadiran adiknya bersama sang madu.

Malas berdebat, Maina langsung berdiri meninggalkan Rudi dan Lira.

“Mai, Lira datang mau jenguk kamu,” kata Rudi mencoba menahan keketusan Maina yang tak mau menyapa Lira.

“Aku baik-baik aja,” balas Maina tanpa menoleh.

“Mai, harusnya kamu nggak keras kepala begini. Malu sama umurmu,” ucap Rina yang tak suka adiknya diabaikan.

Seketika Maina menoleh menatap Rina, Rudi, dan Lira bergantian.

“Ini salahku, Mbak. Maaf, ini salahku. Harusnya aku memang nggak hamil dulu. Aku nggak akan menahan Mas Rudi di rumah. Biar pembagian waktunya kembali adil seperti dulu,” ucap Lira ketakutan.

Lihat selengkapnya