Air mata Maina sudah mengering, tapi luka hatinya masih bernanah. Sambil menatap bayangan diri di cermin, Maina merenungi usianya yang tak lagi muda.
“Apakah masa bahagiaku sudah habis?”
Pertanyaan itu sempat menggelisahkan hati Maina yang mendekap kesendirian karena Rudi masih menemani Lira di rumah sakit.
“Apa lagi sih yang kamu cari, Mai? Kamu sudah berumur, santai aja di rumah. Nggak usah musingin Rudi tinggal di mana. Yang penting dia masih nafkahi kamu, masih ingat pulang. Kalau Rudi tua nanti, kamu juga nggak repot menjaga dia sendirian. Biar Lira yang masih muda yang ngurus Rudi, jadi nggak usah marah-marah kalau sekarang Rudi lebih memprioritaskan Lira.”
Ucapan Rina menggema dalam telinga Maina. Diucapkan semalam saat wanita itu mengambil tasnya yang ketinggalan. Seolah sepakat dengan sang tante, Arra ikut menceramahi ibunya.
“Ma, kenapa ribut lagi? Mbak Lira itu baik, kok. Kasihan loh, Ma, dia juga mikirin Mama. Aku dengar sendiri Mbak Lira nyuruh Papa pulang, tapi gimana Papa mau pulang kalau Mama sambut dengan kemarahan? Jangan salahin Papa kalau jadinya lebih cinta Mbak Lira karena Mama terus mengamuk tanpa alasan. Bukankah surga dan neraka itu kita sendiri yang menciptakan? Papa sudah mencoba menjaga surga kita, Mama yang bikin jadi kayak neraka,”
Meski ucapan Rina menyakitkan, Maina merasa kata-kata Arra yang paling menusuk. Teringat bagaimana dulu dia mengajari Arra bicara, Maina tak menyangka kalau setelah fasih berbahasa, putrinya justru menggunakan banyak kata untuk menyerangnya.
“Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Sabar ya, bu,” hibur Mbok Nar yang sebenarnya juga sakit hati pada Arra.
“Ya, Bapak cinta pertamanya Arra,” gumam Maina berusaha maklum.
Sejak kecil Arby dan Arra memang dimanjakan Rudi hingga keduanya juga sangat menghormati ayah mereka. Namun, tetap saja Maina tak menyangka kalau kedua anaknya sama sekali tidak memikirkan perasaan ibu yang melahirkan mereka.
Dua hari Maina merenungi ucapan keluarganya yang terus melayang di sekitar Maina, seolah menggantikan ketidakhadiran mereka yang memilih menemani Lira karena wanita itu masih harus menjalani perawatan di rumah.
Arra bahkan mengajukan diri menemani Lira saat Rudi harus keluar kota. Begitu juga dengan Rina yang ingin membantu menjaga sang adik ipar.
Maina dibiarkan sendirian dengan alasan wanita itu butuh waktu dan ruang untuk dirinya sendiri.
Seperti yang mereka harapkan, Maina memang banyak merenung. Dalam tiga hari yang sepi, Maina membolak-balik album kenangan keluarga. Banyak air yang menetes dari matanya ketika mengingat masa 26 tahun bersama Rudi. Mengingat tumbuh kembang Arby dan Arra, Maina juga merasa sakit.
Genap seminggu ditinggalkan sendirian, Maina jauh lebih kuat. Sesekali wanita itu sudah keluar rumah, kembali beraktivitas sosial. Dengan wajah semringah, Maina menghibur diri menyalurkan bantuan untuk anak-anak kurang beruntung.
Lima belas tahun lalu Maina mendirikan Rumah Bintang Mandiri, tujuannya untuk memfasilitasi anak-anak kurang mampu agar bisa mengembangkan diri berwirausaha. Sudah banyak anak yang derajat hidupnya terangkat berkat tangan Maina yang ringan membantu.
“Bu, ada sumbangan dari donatur, tahu nggak apa yang istimewa?” sambut Dewi, salah satu asisten kepercayaan Maina.
“Apa?” tanya Maina sambil memperhatikan kardus-kardus berisi peralatan sekolah termasuk seragam.
“Donaturnya alumni RBM,” kata Dewi dengan mata berbinar yang menular pada Maina.
“Oh ya? Syukurlah!” seru Maina bahagia karena ada anak asuh RBM yang bisa menjadi donatur untuk para adik asuh berikutnya.
“Dia angkatan pertama yang dulu dapat bantuan kuliah. Sekarang sedang membuka usaha startup, dia bawa teman-temannya ke sini untuk berbagi,” jelas Dewi.
“Angkatan pertama?” tanya Maina sambil tertawa lalu memeriksa seragam sekolah yang pasti akan membahagiakan anak-anak asuh RBM.
Saat Maina berhenti bicara, terdengar suara kedatangan beberapa pria dan wanita.
Maina yang semula jongkok langsung berdiri dan terkejut karena mendadak dipeluk seorang wanita yang berlari ke arahnya.
“Ibu Maina, akhirnya ketemu lagi. Masih ingat saya? Jasmine yang nyaris gagal skripsi!” teriak seorang wanita saat melepaskan pelukan.
Mata Maina membulat, sibuk mengingat salah satu dari banyaknya anak asuh RBM yang pernah ada.
“Bu, maaf baru datang lagi. Saya lama di Belanda dan sekarang baru punya modal pulang kampung. Saya bawa teman-teman dari startup, rencana mau bikin rumah pintar di kota ini. Sumbangan untuk kota!” seru Jasmine bersemangat sambil mengenalkan teman-temannya.
Tak terkira bahagianya Maina ketika mendengar kemajuan hidup Jasmine. Namun, yang lebih membahagiakannya adalah sikap Jasmine yang mau meneruskan kebiasaan RBM untuk berbagi. Dengan antusias Maina mendengarkan rencana bakti sosial Jasmine.
“Makasih ya Jasmine, semoga hidupmu dan teman-teman semua dipenuhi keberkahan,” kata Maina.
“Semua ini berkat Ibu. Kalau dulu nggak ada Ibu yang membantu melunasi biaya kuliah dan mendorong saya untuk terus maju, nggak akan ada Jasmine yang sekarang. Saya selalu ingat kata-kata Ibu, bahagia itu kita ciptakan sendiri lalu semestinya kita bagikan, jangan menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Makasih ya, Bu. Semoga Ibu selalu bahagia!” kata Jasmine sebelum berpamitan pulang.
Maina tersenyum manis walau dalam hati terhenyak. Ada banyak orang yang mendoakannya seperti Jasmine, tapi kini Maina justru merasa bahagianya direnggut.