Tentu saja masih ada rasa sesal di dada Maina. Air matanya pun masih mengalir. Dua puluh enam tahun yang dia lalui bersama Rudi terasa lenyap begitu saja ketika akhirnya pengadilan memutuskan status mereka telah resmi bercerai.
Saat mediasi Rudi sempat meminta Maina memikirkan ulang keputusannya, tapi hanya sekali. Ketika Maina kukuh mengatakan Rudi tak bisa adil, Rudi pun tidak memperlambat proses perceraian. Kehadiran Lira dalam hidupnya membuat Rudi yakin kalau dirinya tak akan menyesali keputusan keras kepala Lira.
“Ikhlas, Bu, ikhlas,” kata Mbok Nar sambil mengusap punggung Maina.
Keduanya berada di bandara, bersiap menuju kota lain untuk memulai hidup di tempat baru. Tak ada yang mengantar Maina karena Arra marah pada keputusan gegabah ibunya yang dianggap melukai perasaan dan harga diri Rudi. Anak perempuan yang disayangi Maina itu bahkan menyalahkan Maina sebagai perempuan egois.
“Seharusnya Mama nggak bikin Papa marah. Kasihan Papa merasa bersalah, padahal Papa sudah berusaha adil.”
Maina sudah lelah menghadapi Arra yang mati-matian membela Rudi. Dibiarkannya saja sang putri mendukung Rudi menceraikan Maina sebagai bentuk memberi pelajaran pada kekerasan hati Maina.
“Ma, kenapa menyerah? Kalau begini, Mama nggak dapat apa-apa. Harusnya Mama bertahan supaya harta Papa yang jatuh ke Mama lebih banyak!” kata Arby menanggapi.
Maina hanya bisa menghela napas berkali-kali mengingat kedua anaknya yang sama sekali tidak menanyakan luka hatinya memiliki madu. Maina tak mau memusingkan harta. Dia terima apa yang diberikan Rudi sebagai haknya tanpa menuntut harta lain yang tidak dia ketahui.
Di tempat berbeda Rudi juga menghela napas berkali-kali ketika menyadari hubungannya dengan Maina telah berakhir.
“Sudahlah, Rud, fokus saja sama keluargamu yang tersisa. Kalau nanti susah, pasti Maina minta rujuk,” hibur Rani yang agak kesal karena menurutnya Rudi memberikan terlalu banyak harta pada Maina.
Rudi tak menyahut, tapi mengikuti pesan kakaknya untuk fokus pada kehidupan barunya tanpa Maina. Meski tahu Maina akan pergi jauh meninggalkan kota mereka, Rudi tidak mengantar. Rudi juga membiarkan Maina menjual rumah kenangan mereka karena tak mau dianggap mempertahankan memori rumah tangga mereka yang telah berakhir.
Dimanjakan Lira serta dibela anak-anak membuat Rudi cepat melupakan rasa bersalah. Hari-hari setelah perceraian dilalui Rudi biasa saja. Meski masih ada rasa rindu pada Maina, Rudi berusaha menepisnya demi menghargai Lira yang setia melayaninya.
“Mas, kopi,” kata Lira membuyarkan lamunan Rudi tentang Maina.
“Makasih,” balas Rudi sambil menyeruput kopi buatan Lira yang tak sama dengan buatan Maina.
“Capek ya, Mas? Aku pijat ya?” kata Lira sembari menyentuh pundak Rudi, tapi Rudi menolak.
Dengan lembut Rudi menggenggam tangan Lira lalu membawanya duduk berdampingan.
“Istirahat aja, jaga kesehatan kamu,” kata Rudi sambil mengusap perut Lira.
“Kamu kan juga harus jaga kesehatan, Mas,” balas Lira sambil tersenyum.
Senyum yang membuat Rudi meleleh dan tak bisa menolak ketika digiring Lira ke kamar. Dengan penuh pehatian Lira memanjakan Rudi dengan pijatan yang berakhir dengan lenguhan mereka berdua.
“Makasih ya,” bisik Rudi sambil memeluk Lira yang tubuhnya penuh peluh.
“Sama-sama. Aku nggak tahu lagi gimana cara menghibur Mas,” balas Lira sambil menatap langit-langit kamar.
“Begini aja sudah cukup, kok. Setiap hari jadi istri yang baik, aku sudah bersyukur. Makasih sudah bertahan dalam gelombang masalah,” kata Rudi sambil mengecup punggung tangan Lira.
Seketika Lira menoleh menatap wajah suami tuanya, dengan senyuman Lira mendekat lalu balas mencium tangan Rudi dengan khidmat.
“Harusnya aku minta maaf karena aku yang bikin masalah. Aku minta maaf karena nggak berusaha menjauh dari Mas Rudi. Aku minta maaf karena telanjur mencintai Mas,” ucap Lira sambil meneteskan air mata.
Seketika rasa haru menguasai diri Rudi karena dicintai oleh wanita muda cantik nan seksi yang kini mengandung anaknya. Apalagi ucapan itu bukan sekadar kata belaka. Lira benar-benar berusaha menjadi istri yang baik untuk Rudi.
Berusaha menggantikan Maina yang masih menjadi bayang-bayang di hati dan benak Rudi, Lira juga berusaha mengenyahkan rasa bersalahnya sendiri agar bisa menyempurnakan kebahagiaan Rudi.
Hari demi hari dilalui pasangan itu dengan penuh kasih dan cinta. Keduanya berusaha saling membahagiakan, saling melengkapi. Lira tak pernah menuntut Rudi dengan kemewahan, tapi Rudilah yang dengan suka cita memberikan lebih banyak harta untuk Lira yang kini menjadi istri satu-satunya.
“Kamu sudah menjadi istriku satu-satunya. Aku nggak mau malu-malu lagi nunjukin sayangku ke kamu. Bersikap normal aja, jangan takut apa pun. Kita menikah secara sah, nggak melanggar apa pun,” kata Rudi membesarkan hati Lira yang sempat merasa takut kalau hubungan mereka akan mengundang gosip negatif.