Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #1

1. Bertemu Manusia Kesurupan

Lorong indekos eksklusif di kawasan Jakarta Selatan itu terasa begitu dingin karena pendingin ruangan yang menyala maksimal pada pertengahan malam. Jessieca Verandini berjalan santai menuju kamarnya setelah seharian penuh bekerja menata ribuan buku sebagai admin perpustakaan daerah. Penyuara telinga nirkabel terpasang rapi di kedua telinganya. Perempuan itu bersenandung pelan mengikuti alunan lagu dari band Filipina kesukaannya, Cup of Joe. Baginya, pekerjaan di Jakarta sudah cukup membuatnya pusing pada siang hari, sehingga dia tidak mau berurusan dengan hal aneh-aneh dan hanya ingin mencari uang dengan tenang.

"Mananatili, sa iyong tabi magdama..." Jessieca menyanyi dalam bahasa Tagalog, sama sekali tidak peduli dengan suasana sepi lorong malam itu.

Pintu kamar nomor 204 mendadak terbuka lebar. Kenzy Ramadhan, seorang pemengaruh media sosial yang sering membuat konten ulasan produk, melangkah keluar dengan gerakan kaku. Matanya melotot tajam. Urat lehernya menonjol hingga wajahnya memerah padam. Tanpa peringatan apa pun, tangan laki-laki itu terulur dan mencekik leher Jessieca. Tubuh Jessieca terdorong sangat kuat hingga punggungnya membentur dinding beton lorong dengan suara berdebum.

"Mati! Kamu harus mati sekarang juga!" bentak sosok gaib dari dalam mulut Kenzy dengan suara serak yang berat dan menggema di lorong.

Bukannya panik atau berteriak meminta tolong, Jessieca hanya mendesah pelan. Dia melepaskan satu penyuara telinga, lalu menatap datar wajah Kenzy. Jessieca sebenarnya bisa melihat sosok bayangan hitam bertaring yang menempel di punggung Kenzy, tetapi dia sengaja mengabaikan wujud aslinya seperti kebiasaannya selama ini. Dia hanya akan bereaksi jika ada manusia yang kesurupan dan mulai mengganggu ketenangannya.

"Tanganmu bau sekali. Kamu habis memegang apa di dalam kamarmu sana?" tanya Jessieca dengan nada kelewat santai, sama sekali tidak berusaha melepaskan cengkeraman tersebut.

"Aku akan mengambil nyawamu malam ini juga!" ancam sosok gaib itu, mengeratkan cekikannya di leher Jessieca.

"Sopankah main cekik orang yang sama sekali tidak kamu kenal?" balas Jessieca tanpa minat, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu jelek banget sungguhan. Wajah berantakan begitu berani keluar malam-malam begini. Kamu tidak malu dilihat hantu lain di sekitar kawasan indekos ini?"

Mata Kenzy berkedip bingung. Sosok gaib itu sepertinya sangat terkejut mendapat respons yang sama sekali tidak terduga dari seorang manusia biasa.

"Aku ini penguasa lorong ini! Semua makhluk takut padaku!" balas sosok itu lagi, meski suaranya mulai terdengar bergetar ragu.

"Penguasa dari mana? Membayar iuran kebersihan gedung saja tidak pernah," cibir Jessieca telak. "Modelan setan begini pasti sering dikucilkan di alam sana, ya? Tidak punya teman, kan? Makanya kamu sengaja mencari perhatian dengan cara merasuki penghuni indekos yang sedang kelelahan ini."

Tangan Kenzy mulai gemetar. Cengkeramannya terasa mengendur secara perlahan.

"Kasihan sekali nasibmu. Sudah mati, ditolak lingkungan pergaulan setan, sekarang malah merasuki laki-laki yang sedang banyak pikiran. Coba kamu bercermin ke kaca jendela besar di ujung lorong itu, wujudmu itu sangat mengganggu pemandangan lorong yang sudah dibersihkan oleh petugas."

Suara rintihan pelan keluar dari mulut Kenzy. Cekikan di leher Jessieca perlahan mengendur dan terlepas sepenuhnya. Laki-laki itu mundur satu langkah dengan tubuh yang bergetar hebat.

"Kenapa malah menangis? Mentalmu lemah sekali sebagai hantu," lanjut Jessieca tanpa ampun, menatap tajam mata Kenzy yang mulai berkaca-kaca. "Baru ditegur dengan fakta kebenaran begitu saja sudah gemetar dan sedih. Cepat pergi dari tubuh laki-laki ini sekarang juga! Aku mau istirahat karena besok harus bekerja pagi melayani pengunjung perpustakaan!"

"Kamu jahat sekali! Mulutmu sangat pedas!" jerit sosok itu dengan nada tinggi yang memekakkan telinga, bercampur isakan tangis keputusasaan.

Sedetik kemudian, mata Kenzy terpejam rapat. Tubuh laki-laki itu langsung ambruk ke lantai. Bunyi debuman keras terdengar saat punggungnya menghantam ubin. Jessieca merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut akibat tarikan paksa tadi, melangkahi tubuh Kenzy yang pingsan total, lalu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam seolah tidak pernah terjadi insiden apa pun.

Lihat selengkapnya