Pintu kamar nomor 202 tertutup rapat. Kenzy Ramadhan mondar-mandir di dalam ruangan yang berantakan dengan berbagai perlengkapan kamera. Kepalanya terasa sangat pening. Sisa ketegangan akibat kejadian semalam belum hilang sepenuhnya. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang pemengaruh media sosial yang selalu tampak percaya diri di depan kamera, runtuh seketika. Bagaimana mungkin ia, seorang laki-laki yang sudah terbiasa berinteraksi dengan ribuan pengikut, bisa tunduk pada seorang perempuan baru yang bahkan tidak ia kenal?
Ponsel di atas meja kerjanya bergetar. Nama Dika tertera di layar. Kenzy menghela napas panjang sebelum menekan tombol terima.
"Halo, Dika. Ada apa?" suara Kenzy terdengar datar, menyembunyikan kecemasan yang masih tersisa.
"Kenzy, kamu jadi ikut datang ke kelab malam nanti malam? Sponsor minuman keras itu sudah bertanya. Mereka membayar mahal untuk satu video promosi singkat," suara Dika terdengar antusias dari seberang sambungan.
Kenzy berhenti melangkah. Ia menatap bayangan dirinya di cermin, tampak kusut dan lelah. "Aku tidak bisa ikut hari ini, Dika. Kepalaku pening sekali."
"Sakit? Kamu habis minum-minum semalam? Biasanya kamu tidak pernah menolak uang mudah seperti ini," balas Dika dengan nada curiga.
"Bukan begitu. Semalam aku mengalami kejadian tidak masuk akal. Aku merasa tidak enak badan setelah kejadian di lorong kost. Aku tidak bisa bekerja hari ini," jelas Kenzy, suaranya terdengar frustrasi.
"Kejadian apa maksudmu? Kamu sakit karena begadang?"
"Anggap saja begitu. Aku hanya ingin istirahat. Aku tidak mau diganggu dulu," Kenzy mendesah. "Aku sedang memikirkan cara untuk memulihkan diriku sendiri."
"Itu terserah kamu saja. Tapi, sponsor itu menuntut jawaban cepat. Kalau kamu melewatkan kesempatan ini, mungkin mereka tidak akan menawarkan lagi," pungkas Dika sebelum memutuskan sambungan telepon.
Di sisi lain kota, Jessieca Verandini berdiri berdesakan di dalam gerbong kereta rel listrik menuju tempat kerjanya. Suasana gerbong sangat padat, namun ia tetap tenang dengan penyuara telinga yang terpasang. Alunan lagu dari band Filipina favoritnya, Cup of Joe, mengalun lembut, memblokir kebisingan manusia di sekitarnya.
Tiba-tiba, suhu di dekatnya menurun drastis. Sesosok bayangan pucat dengan mata cekung bergelantungan terbalik dari pegangan tangan gerbong. Hantu itu menyeringai, menampakkan wajah yang hancur, dan mencoba menyentuh bahu Jessieca.
Jessieca merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya, namun ia sama sekali tidak menoleh. Ia menatap lurus ke arah layar informasi di dalam kereta. Ia menggeser letak penyuara telinganya agar lebih rapat, memutar musik dengan volume lebih tinggi, dan memejamkan mata sejenak. Baginya, makhluk itu hanyalah debu yang tidak perlu diakui eksistensinya.
Hantu itu menggeram pelan, mencoba meniup telinga Jessieca, namun perempuan itu hanya mengerutkan kening karena merasa ada embusan angin yang mengganggu kenyamanannya membaca berita di ponsel. Ia tidak merespons, tidak menoleh, dan tidak memberikan reaksi apa pun. Ia tetap berdiri tegak, berpura-pura sedang sangat fokus pada layar ponselnya.
Merasa tidak mendapatkan perhatian sedikit pun, makhluk itu akhirnya mendengus kecewa, melayang menjauh dengan cepat untuk mencari target lain yang lebih lemah mental. Jessieca menarik napas lega. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke dinding gerbong, menikmati lagu "Mananatili" dengan tenang.
Siang harinya, Kenzy berjalan menuju halaman depan kost untuk menemui Pak Yanto, pemilik gedung kost yang sedang menyapu dedaunan kering. Ia butuh informasi valid mengenai tetangga misteriusnya.
"Pak Yanto, saya mau bertanya sebentar," sapa Kenzy seraya mendekat.
Pak Yanto menoleh dan tersenyum ramah. "Ada apa, Kenzy? Tumben siang begini kamu keluar dari kamar. Biasanya kamu selalu sibuk merekam ulasan produk."