Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #3

3. Roasting Hantu di Kasir

Jessieca memutar bola matanya mendengar pertanyaan panjang lebar dari Kenzy. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Udara di sini sama saja dengan tempat lain."

"Tetapi sungguh, aku merasakan perbedaan yang sangat drastis," balas Kenzy bersikeras. "Setiap kali kamu ada di dekatku, perasaan cemas itu hilang. Tolong terima kopi ini dulu sebagai niat baikku."

"Sudah kubilang aku tidak suka kopi. Aku hanya minum teh," tolak Jessieca tegas.

"Kalau begitu, biarkan aku berlari ke kedai depan sekarang juga untuk membelikanmu teh hangat. Kamu suka teh melati atau teh hitam?" tawar Kenzy tanpa menyerah.

"Tidak perlu repot-repot membuang uangmu. Permintaan maafmu sudah aku terima dengan jelas," ucap Jessieca sambil memegang gagang pintu kamarnya.

"Sekarang kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah."

"Kamu yakin tidak mau mengobrol sebentar di dapur? Kita bisa membahas lingkungan kost ini," bujuk Kenzy.

"Aku lelah bekerja melayani manusia seharian penuh. Selamat malam," tegas Jessieca sebelum masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

Kenzy kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Biasanya, suara bisikan gaib selalu mengganggu telinganya setiap malam menjelang tidur. Namun malam ini, keheningan total menyelimuti ruangan tersebut. Ia menempelkan telinga ke dinding yang berbatasan langsung dengan kamar Jessieca. Hawanya sangat sejuk.

"Apakah perempuan itu memiliki semacam perisai energi tak kasat mata?" gumam Kenzy pada dirinya sendiri.

"Mengapa semua makhluk halus di lorong seolah enggan mendekatinya sama sekali? Padahal, biasanya mereka selalu berkumpul di depan pintu kamarku untuk meminta perhatian." Ia duduk di tepi kasur sambil mengacak-acak rambutnya yang sedikit basah.

"Ini benar-benar gila. Tiga tahun aku tinggal di gedung ini, aku selalu diganggu sampai kurang tidur. Begitu dia datang dan menempati kamar sebelah, kamarku mendadak terasa seperti tempat ibadah yang suci." Kenzy menatap langit-langit kamarnya dengan senyum penuh harapan.

"Aku harus membuktikan dugaanku besok pagi. Jika benar dia bisa mengusir energi negatif, hidupku akan selamat."

Keesokan harinya, bertepatan dengan hari libur nasional, Kenzy mengendap-endap mengikuti Jessieca. Perempuan itu berjalan santai menuju minimarket di ujung jalan raya. Kenzy bersembunyi di balik rak makanan ringan, mengamati tetangganya yang sedang sibuk memilih detergen cair.

"Dia benar-benar terlihat seperti manusia biasa pada umumnya. Tidak ada aura cenayang atau benda pusaka yang menempel di tubuhnya," bisik Kenzy mengintai dari jauh.

Tiba-tiba, suasana minimarket berubah drastis. Seorang kasir laki-laki yang tadinya sedang merapikan mesin kasir mendadak tertawa melengking. Tubuhnya menegang kaku.

"Darah! Aku mencium aroma ketakutan manusia!" teriak kasir itu dengan suara serak yang berat, sama sekali bukan suara aslinya. Seorang ibu-ibu pelanggan menjerit histeris.

"Astaga Tuhan! Mas kasir kesurupan!"

Kasir itu melompat ke atas meja dengan gerakan sangat tidak wajar, mencekik lehernya sendiri sambil terus tertawa mengerikan. Lampu minimarket mulai berkedip-kedip tidak stabil. Beberapa pelanggan lain langsung berlarian keluar pintu karena ketakutan. Jessieca yang baru saja meletakkan keranjang belanjaannya di meja kasir hanya menghela napas panjang melihat kekacauan tersebut.

"Mas, bisa tolong pindai detergen saya sekarang? Saya sangat sibuk dan ingin segera pulang," ucap Jessieca dengan nada datar. Mata kasir itu melotot merah menatap Jessieca.

"Beraninya manusia lemah sepertimu memerintahku! Aku akan merobek jantungmu perlahan-lahan lalu meminum darahmu malam ini juga!"

Lihat selengkapnya