Kenzy memandangi keranjang plastik berisi tumpukan kemeja kotornya dengan penuh tekad. Jam dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia tahu persis, berdasarkan pengamatannya selama tiga hari terakhir, ini adalah waktu yang dipilih Jessieca untuk menggunakan mesin cuci di area belakang kost.
Ia mengangkat keranjang itu dan melangkah keluar kamar. Suasana lorong terasa sangat sepi. Sesampainya di area jemuran, tebakannya tepat sasaran. Jessieca sedang menuangkan pelembut pakaian ke dalam tabung mesin cuci sambil bersenandung pelan.
"Malam yang sangat cerah untuk mencuci pakaian, bukan begitu?" sapa Kenzy dengan senyum lebar.
Jessieca menoleh perlahan, menatap Kenzy dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu sengaja mengikutiku sampai ke tempat cucian ini?"
"Tentu saja tidak. Ini kebetulan yang sangat luar biasa. Stok kemeja bersihku sudah habis untuk dipakai bekerja besok pagi," kilah Kenzy cepat.
"Kamu seorang pekerja lepas yang membuat konten dari dalam kamar. Sejak kapan kamu butuh kemeja rapi setiap hari?" selidik Jessieca tajam.
"Aku ada jadwal pertemuan penting dengan klien besok siang. Jadi, apakah aku boleh menggunakan mesin cuci satunya yang ada di sebelahmu itu?" tanya Kenzy mengalihkan pembicaraan.
"Pakai saja. Mesin itu bukan milikku, itu fasilitas bersama yang disediakan oleh Pak Yanto," jawab Jessieca datar sambil menekan tombol daya pada mesin cucinya.
"Terima kasih banyak. Kamu selalu baik padaku," puji Kenzy sambil memilah bajunya.
"Aku hanya bersikap logis. Lagipula, kamu terlihat sangat pucat. Apakah kamu sedang sakit atau sekadar kurang tidur?" tanya Jessieca tanpa menatap wajah pria itu.
"Aku sangat sehat. Mungkin efek cahaya lampu neon di atas kita ini yang membuat wajahku terlihat sedikit berbeda," dusta Kenzy. Padahal, ia sedang menahan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar dari lantai semen ke telapak kakinya.
"Terserah kamu saja. Tolong jangan mengajakku mengobrol terlalu banyak. Aku ingin menikmati musikku," ucap Jessieca seraya memasang penyuara telinganya kembali.
Kenzy mengangguk paham. Ia mulai memasukkan pakaiannya ke dalam mesin. Namun, rasa dingin di kakinya perlahan merambat naik ke betis. Area jemuran kost ini memang terkenal sedikit suram karena berbatasan langsung dengan tembok tua penuh lumut. Angin malam berembus kencang, menggoyangkan pakaian-pakaian basah yang sudah digantung lebih dulu oleh penghuni lain.
"Jessieca, apakah kamu merasakan perubahan suhu yang sangat drastis di sini?" bisik Kenzy, suaranya mulai bergetar.
Perempuan itu sama sekali tidak menoleh karena asyik mengetuk-ngetukkan jarinya ke pinggiran mesin cuci, mengikuti irama lagu kesukaannya.
"Jessieca, aku serius. Kakiku mendadak kaku dan sulit digerakkan," ucap Kenzy agak keras.
Kali ini Jessieca melepas sebelah penyuara telinganya. "Kamu bicara sesuatu kepadaku barusan?"
"Ada sesuatu yang memegang pergelangan kakiku dari arah tumpukan ember kosong itu," rintih Kenzy dengan napas tertahan.
"Jangan mulai membuat drama tengah malam. Aku tidak punya waktu meladeni halusinasi atau apa pun itu namanya," balas Jessieca ketus.
"Aku tidak berbohong! Tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali sekarang," Kenzy memejamkan mata, wajahnya semakin pucat pasi.