Alunan lagu pop Filipina terdengar menggelegar dari balik pintu kamar Jessieca. Pagi akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi para penghuni kost, justru dimanfaatkan oleh Jessieca untuk melakukan bersih-bersih total. Kenzy berdiri di depan pintu kamar perempuan itu seraya memegang sebuah pengki plastik yang kosong. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian penuh untuk segera mengetuk pintu tersebut. Sebenarnya, kondisi kamarnya sendiri sudah sangat rapi dan bersih. Ia hanya sekadar mencari-cari alasan logis agar bisa menyusup masuk ke dalam zona aman yang terbebas dari gangguan hantu milik Jessieca.
Kenzy mengetuk pintu tiga kali dengan cukup keras agar suaranya mampu mengalahkan volume musik di dalam ruangan. Tidak butuh waktu lama, pintu itu pun terbuka. Jessieca muncul dengan rambut yang diikat asal-asalan, memakai kaus oblong yang kebesaran, dan tangan kanannya memegang sebuah kemoceng bulu ayam.
"Ada urusan penting apa lagi kamu datang pagi-pagi begini?" tanya Jessieca dengan nada yang terdengar sangat malas.
"Aku mau meminjam sapu lantai milikmu. Sapu di kamarku gagangnya tiba-tiba patah tadi malam," bohong Kenzy seraya menyodorkan pengki kosongnya sebagai bukti niat baiknya.
"Kenapa kamu tidak meminjam sapu milik bapak kost di lantai bawah saja?" balas Jessieca tanpa beranjak sedikit pun dari ambang pintunya.
"Bapak kost sedang pergi berbelanja ke pasar tradisional. Lagipula, aku sungguh tidak berani turun ke area gudang bawah tanah itu sendirian. Kamu masih ingat bayangan hitam yang menyusup melewati bawah pintumu semalam, kan? Aku semalaman tidak bisa tertidur pulas karena khawatir bayangan aneh itu akan mengincarku juga," jawab Kenzy berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
"Oh, bayangan kerdil yang merayap itu? Itu cuma hantu anak kecil kelaparan yang menumpang lewat untuk mencari sisa-sisa makanan jatuh. Aku sama sekali tidak repot-repot menanggapinya dan langsung tertidur lelap sampai pagi menyapa. Jangan pernah membesar-besarkan masalah yang sangat sepele," ucap Jessieca dengan sangat santai.
"Tetap saja hal seperti itu sangat menyeramkan bagiku. Boleh aku masuk sebentar saja? Kepalaku terasa sangat pusing karena mendengar bisikan gaib dari balik tembok kamarku sendiri sejak waktu subuh tadi. Aku berjanji hanya akan duduk diam di pojokan sana sampai kamu selesai menyapu lantai," bujuk Kenzy sambil memamerkan wajah yang sangat memelas.
Jessieca mendengus pelan, lalu perlahan membuka pintunya menjadi lebih lebar. "Masuklah sekarang. Duduk manis di kursi lipat ujung sana. Jangan pernah berani menyentuh barang-barangku sedikit pun dan jangan coba-coba mengeluh soal lagu yang sedang aku putar ini."