Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #6

6. Memperdebatkan Sambal

Matahari bersinar sangat terik tepat di atas kepala, menyengat kulit siapa saja yang berani berjalan di luar ruangan. Namun, Kenzy tetap bersikeras menarik langkah Jessieca menuju warung tegal yang berada tepat di seberang jalan gedung kost mereka.

"Aku sudah bilang berkali-kali, kamu tidak perlu repot-repot menghamburkan uangmu hanya untuk memberiku makan siang," omel Jessieca sambil menutupi kepalanya dengan map plastik transparan.

"Ini bukan sekadar menghamburkan uang. Ini adalah bentuk rasa terima kasihku yang paling tulus karena kamu sudah mengizinkanku menumpang aman di kamarmu kemarin," balas Kenzy dengan senyum mengembang.

"Lagipula, harga makanan di warung ini sangat ramah di kantong."

"Kalau kantongmu sedang tipis, sebaiknya uang itu kamu tabung saja untuk masa depan. Aku bisa memasak mi instan sendiri di dapur kost," tolak Jessieca masih berusaha memutar balik badannya menuju gerbang.

"Ayolah, jangan menolak rezeki. Anggap saja ini sebagai perayaan kecil-kecilan karena aku berhasil tidur nyenyak tadi malam tanpa gangguan suara tangisan gaib. Kamu mau pesan apa? Sayur lodeh, ayam goreng, atau telur dadar?" tawar Kenzy seraya menunjuk deretan piring lauk di balik kaca etalase warung.

"Terserah kamu saja, yang penting porsinya cukup dan tidak terlalu banyak minyak," jawab Jessieca akhirnya menyerah dan duduk di salah satu kursi kayu panjang.

Warung tegal itu tidak terlalu ramai karena jam makan siang para pekerja proyek bangunan di sebelah sudah lewat. Di luar jendela tepat di samping meja mereka, berdiri sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dan rimbun. Akar-akarnya menjuntai hingga hampir menyentuh atap seng warung tersebut.

Kenzy meletakkan dua piring nasi rames lengkap dengan es teh manis di atas meja. Ia duduk berhadapan dengan Jessieca yang sedang mengelap sendoknya menggunakan tisu.

"Selamat makan, pahlawan pelindungku. Semoga menu sederhana ini sesuai dengan seleramu," ucap Kenzy riang.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh seperti itu jika kamu masih ingin makan semeja denganku." Ancam Jessieca seraya menyendok nasi ke mulutnya.

Kenzy tertawa pelan dan mulai menyantap makanannya. Namun, baru beberapa suap, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada batang pohon beringin besar di luar jendela. Udara di sekitarnya mendadak terasa sangat berat dan pengap. Suara bising kendaraan di jalan raya seolah meredam, digantikan oleh dengungan pelan yang menyakitkan telinga.

"Pohon itu sangat rimbun, bukan?" gumam Kenzy pelan, suaranya mulai terdengar datar dan kosong.

"Tentu saja rimbun, itu pohon beringin yang sudah ditanam puluhan tahun lalu," sahut Jessieca tanpa mengalihkan pandangannya dari piring makanan.

Lihat selengkapnya