Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #7

7. Mati Lampu

Kenzy menatap layar ponsel cerdasnya yang terpasang kokoh pada penyangga tripod baja. Cincin cahaya di depannya menyala terang benderang, menyorot wajahnya yang sudah dipoles bedak tipis agar tampak segar. Sebagai seorang pembuat konten gaya hidup yang memiliki ratusan ribu pengikut, ia dituntut untuk selalu tampil sempurna di depan kamera. Malam ini, ia memiliki jadwal siaran langsung penting untuk mempromosikan sebuah produk perawatan wajah pria dari jenama ternama.

"Selamat malam, teman-teman semua! Cuaca di luar sedang hujan deras, tetapi semangat kita tidak boleh ikut luntur," sapa Kenzy dengan senyum profesional ke arah lensa kamera ponselnya.

"Hari ini aku akan membagikan rahasia kulit sehat meski cuaca sedang..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat promosi tersebut, kilatan petir menyambar keras diiringi suara guntur yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, seluruh aliran listrik di gedung kost itu padam seketika. Kamar Kenzy langsung tenggelam dalam kegelapan total. Layar siaran langsungnya terputus karena jaringan internet ikut menghilang bersamaan dengan matinya lampu.

"Bencana apa lagi ini? Siaran langsungku bisa gagal total malam ini," keluh Kenzy panik sambil meraba-raba laci mejanya, mencari korek api dan sebatang lilin darurat.

Hujan lebat di luar jendela semakin mengguyur jalanan dekat kost tersebut, kegelapan adalah musuh terbesar bagi Kenzy. Saat cahaya menghilang, dimensi gaib terasa menjadi sangat dekat dengan kenyataan, Ia mulai mendengar suara langkah kaki berderap di langit-langit kamarnya dan bisikan-bisikan parau dari sudut lemari pakaian. Tanpa berpikir panjang, Kenzy segera menyalakan sebatang lilin, berlari keluar kamar, lalu mengetuk pintu kamar milik Jessieca dengan brutal.

Di dalam kamar tersebut, Jessieca sedang menikmati waktu santainya sepulang dari perpustakaan pusat kota tempatnya bekerja. Sebagai seorang administrator perpustakaan, pekerjaannya hari ini cukup menguras tenaga. Ia harus menyortir ratusan buku sejarah baru ke dalam rak yang berdebu. Tentu saja, ia juga harus berpura-pura buta demi mengabaikan penampakan hantu penjaga rak arsip yang terus mondar-mandir di sekitarnya sepanjang sore. Kini, ia hanya ingin merebahkan diri sambil membaca novel fiksi kegemarannya menggunakan bantuan cahaya senter dari ponsel.

Ketukan keras di pintu membuat Jessieca menghela napas panjang. Ia beranjak dari kasur dan memutar kenop pintu perlahan. Wajah pucat Kenzy langsung menyambutnya.

"Bolehkah aku menumpang duduk di kamarmu malam ini, Jessieca?" mohon Kenzy dengan suara bergetar ketakutan.

"Kamu memang ga tahu malu, Kenzy. Kenapa kamu selalu mengganggu waktu istirahatku setiap kali ada masalah yang sepele?" omel Jessieca, namun ia tetap melangkah mundur untuk memberikan jalan masuk.

"Ini sama sekali bukan masalah remeh bagiku. Listrik padam dan kamarku langsung dipenuhi suara-suara aneh," jelas Kenzy seraya meletakkan lilinnya di atas meja kecil milik Jessieca.

"Siaran langsungku untuk promosi produk juga hancur berantakan. Klienku pasti akan marah besar besok pagi karena target penontonku tidak tercapai,"

"Itu adalah risiko pekerjaanmu sebagai figur publik di dunia maya. Kamu harus menyiapkan mesin penghasil listrik pribadi kalau tidak mau siaranmu terputus di tengah jalan," tanggap Jessieca datar.

"Tutup pintunya rapat-rapat sekarang, jangan sampai ada angin yang meniup mati lilin menyedihkan itu,"

"Kamu sungguh tidak punya simpati sedikit pun kepadaku. Pekerjaanmu sebagai penjaga perpustakaan pasti jauh lebih tenang daripada pekerjaanku. Tidak ada tekanan dari klien atau keharusan untuk selalu tersenyum palsu di depan kamera ponsel," ucap Kenzy seraya menarik kursi lipat dan duduk dengan patuh di sudut ruangan.

"Jangan pernah meremehkan pekerjaanku. Menyusun katalog buku bersejarah sambil berpura-pura tidak melihat penampakan gaib yang suka menjatuhkan buku dari rak itu butuh konsentrasi tingkat tinggi," balas Jessieca ketus sambil kembali fokus pada halaman novelnya.

Lihat selengkapnya