Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #8

8. Perpustakaan Pusat

Cahaya matahari pagi mulai menembus celah ventilasi lorong kost. Kenzy melangkah keluar dari kamar nomor tujuh dengan wajah kelelahan sambil membawa sisa lilin semalam. Tepat saat ia menutup pintu, Rina dan Dimas yang sedang menyeduh kopi di dapur umum langsung menatapnya dengan mata terbelalak.

"Wah, pagi-pagi sekali sudah keluar dari kamar nomor tujuh. Sepertinya semalam ada yang menumpang tidur dengan sangat nyaman," sindir Dimas sambil mengaduk kopinya sambil tersenyum jahil.

"Ternyata gosip tentang kalian berdua itu bukan isapan jempol belaka. Hebat sekali caramu menaklukkan perempuan paling dingin di kost ini, Kenzy," tambah Rina dengan nada menghakimi.

"Kalian berdua tolong jangan bicara sembarangan. Semalam listrik padam total dan kamarku terasa sangat menyeramkan. Aku hanya menumpang duduk sambil menyalakan lilin di kamar Jessieca," bantah Kenzy dengan nada suara yang sedikit meninggi karena panik.

"Menumpang duduk dari malam sampai matahari terbit? Alasan itu terlalu mengada-ada untuk ukuran tetangga kamar biasa," sahut Dimas tidak percaya.

"Kalian benar-benar salah paham! Aku sama sekali tidak melakukan hal aneh apa pun kepada Jessieca. Tolong jangan sebarkan gosip murahan yang bisa merusak nama baiknya," tegas Kenzy membela diri.

Pintu kamar nomor tujuh terbuka kembali. Jessieca melangkah keluar mengenakan seragam kerja rapi, mengabaikan tatapan heran Dimas dan Rina.

"Berhentilah membuang waktumu untuk meladeni mereka berdua, Kenzy. Pendapat orang lain bukan urusan kita," potong Jessieca dengan ekspresi wajah yang sangat datar.

"Tetapi mereka berpotensi merusak nama baikmu di grup pesan singkat kost ini, Jessieca. Aku harus segera meluruskannya agar kamu tidak dirugikan," balas Kenzy khawatir.

"Aku sama sekali tidak peduli. Memangnya omongan mereka bisa membayar tagihan airku bulan ini? Aku harus segera berangkat bekerja sekarang," ucap Jessieca seraya melenggang pergi begitu saja meninggalkan lorong dapur.

Dua jam kemudian, Kenzy sudah berada di sebuah kedai kopi bergaya modern di pusat kota. Ia duduk berhadapan dengan Reno, manajer agensinya, serta Aldo, rekan sesama pembuat konten. Layar komputer jinjing menyala terang di atas meja mereka.

"Klien kita sangat marah besar pagi ini, Kenzy. Siaran langsungmu terputus tepat saat jumlah penonton sedang mencapai titik puncaknya semalam," keluh Reno sambil memijat pelipisnya perlahan.

Lihat selengkapnya