Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #10

10. Langganan Kerasukan

Lorong lantai dua bangunan kost itu mendadak hening, menyisakan suara deru napas Kenzy yang memburu dan detak jam dinding tua yang tergantung di dekat tangga. Suhu udara di sana anjlok secara drastis, membuat embun tipis keluar dari sela bibir mereka saat berbicara. Di hadapan Jessieca, sosok Noni Belanda yang seharian tadi ia abaikan di perpustakaan kota kini menampakkan wujud aslinya dengan lebih jelas. Wajahnya pucat pasi, gaun putih kusamnya tampak seperti kain yang sudah terkubur puluhan tahun di dalam tanah lembap, dan sepasang matanya menatap tajam penuh dendam.

"Jessieca, aku sudah memperingatkanmu! Hantu Noni Belanda itu benar-benar mengikutimu pulang dan sekarang dia sedang menempel tepat di belakang punggungmu dengan tatapan yang sangat mematikan!" seru Kenzy panik. Tangannya gemetar hebat, berusaha meraih pegangan pintu kamar demi menopang tubuhnya yang nyaris roboh karena paparan energi negatif yang luar biasa kuat.

Jessieca hanya memutar bola matanya malas. Ia tetap berdiri tegak dengan tangan yang bersedekap di depan dada.

"Sudah kubilang berkali-kali, Kenzy, tidak usah dipedulikan. Makin kita peduli, makin mereka betah mengganggu, kamu ini kenapa harus setakut itu sih? Dia cuma bayangan, bukan petugas penagih utang," jawab Jessieca dengan nada bicara yang datar, dingin, dan sangat tidak peduli.

Namun, hantu itu rupanya sudah terlanjur gelap mata. Merasa harga dirinya sebagai kaum bangsawan masa lalu diinjak-injak karena terus-menerus diabaikan oleh Jessieca, ia tidak lagi mencoba menakut-nakuti dengan cara melayang. Tanpa peringatan, sosok itu melesat cepat dan menerjang tubuh Kenzy. Pria itu tersentak hebat, kepalanya terhentak ke belakang, dan tubuhnya seketika menegang kaku seperti patung. Saat Kenzy kembali menegakkan kepalanya, raut wajahnya sudah berubah total. Tatapan matanya yang tadi penuh ketakutan kini berganti menjadi angkuh, dingin, dan dipenuhi oleh aura kebencian yang sangat kental.

"Gadis tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu meremehkan kehadiran seorang bangsawan besar di tempat sekotor ini!" suara yang keluar dari mulut Kenzy kini melengking parau, sangat kontras dengan nada bicara aslinya. Suara itu menggema di lorong yang sempit, membuat lampu neon di atas mereka berkedip-kedip tidak stabil.

Jessieca menghela napas panjang, sebuah gestur yang menunjukkan betapa ia merasa sangat terganggu oleh drama tersebut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap tubuh Kenzy dengan pandangan yang sangat meremehkan.

"Oh, jadi kamu nekat merasuki tetangga kostku hanya karena tidak terima dicueki di perpustakaan tadi? Kurang kerjaan sekali, ya? Apa kamu tidak punya hobi lain selain mengganggu manusia yang sedang lelah ingin tidur?"

"Saya akan membuatmu menyesal karena telah menghina martabat saya, gadis tidak tahu sopan santun!" bentak sosok di dalam tubuh Kenzy itu sambil menghentakkan kaki dengan kasar ke lantai keramik, menciptakan suara dentuman yang cukup keras.

Jessieca maju satu langkah, kini ia menatap tepat ke bola mata Kenzy yang dikuasai makhluk itu. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, malah tampak seperti sedang mengamati sesuatu yang menjijikkan dan tidak layak berada di sana.

"Martabat? Coba kamu sadar diri sedikit dan gunakan mata yang kamu pinjam itu untuk berkaca. Lihat gaun putih yang kamu pakai. Itu bukan gaun bangsawan, lagipula itu sudah kuning, penuh noda tanah, dan modelnya sangat ketinggalan zaman. Persis seperti gorden murah yang dibuang di gudang karena sudah terlalu banyak debu dan rayap."

Lihat selengkapnya