Love Language: Ngerujak Setan

Nurul Adiyanti
Chapter #11

11. Rahasia yang Bocor

Di sebuah restoran cepat saji bernuansa industrial yang sangat ramai di kawasan Jakarta Selatan, Kenzy sedang berkumpul bersama komunitas sesama pemengaruh media sosial. Di atas meja kayu panjang mereka, bertumpuk piring-piring kosong, gelas minuman dingin, dan sebuah laptop yang menampilkan grafik statistik performa video kolaborasi terbaru mereka.

"Kenzy, minggu depan kita harus bikin konten tantangan makan mi instan super pedas di Bandung. Pengikut media sosialmu pasti langsung melonjak lagi kalau kita gabungkan audiens kita," kata Radit sambil mengunyah kentang gorengnya dengan lahap.

"Boleh saja, atur saja jadwalnya dengan manajer kedai di sana. Tapi jangan hari Senin ya, karena aku harus menghadiri rapat penting dengan pihak konveksi untuk lini busana terbaruku," jawab Kenzy sambil mengaduk es kopinya dengan sedotan.

Gavin, seorang pemengaruh konten komedi yang duduk di sebelah Radit, tiba-tiba menyeletuk dengan mulut yang penuh makanan.

"Jangan konten mi pedas terus, bosan tahu! Gimana kalau tantangan makan seblak kuah cokelat campur keju lumer? Pasti penonton kita langsung heboh melihat wajah tersiksa kita!"

"Itu bukan konten kuliner yang menghibur, Gavin. Itu namanya percobaan pembunuhan berencana untuk lambung kru kamera kita sendiri," canda Kenzy yang langsung membuat seisi meja tertawa terpingkal-pingkal mendengar ide konyol tersebut.

"Tapi serius, Kenzy, bisnismu yang kemarin omzetnya naik drastis kan? Traktir kita semua makan piza premium ukuran besar dong sebagai perayaan kesuksesanmu," tagih Radit sambil menyenggol lengan Gavin dengan jahil.

"Tenang saja, nanti malam aku pesan lewat aplikasi daring untuk kalian semua yang ada di sini," balas Kenzy dengan murah hati, membuat teman-temannya bersorak gembira di dalam restoran itu.

Gawai milik Kenzy yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar tanpa henti. Notifikasi dari grup WhatsApp warga Kost Bahagia beruntun masuk hingga membuat layarnya terus menyala terang.

"Kenapa ponselmu berisik sekali? Ada panggilan kerja sama dari merek internasional yang mendesak?" tanya Gavin penasaran sambil melirik layar gawai Kenzy.

"Bukan, ini hanya grup kost yang mendadak sangat heboh. Sebentar, aku periksa dulu apa yang sedang mereka ributkan di sana," ujar Kenzy sambil membuka aplikasi pesan singkatnya.

Matanya langsung membelalak kaku saat melihat sebuah video rekaman kamera pengawas berdurasi satu menit yang dikirim oleh Bapak Kost ke dalam grup utamanya.

_

Sementara itu, di sisi lain kota, tepatnya di dalam ruang arsip perpustakaan daerah yang sejuk dan tenang, Jessieca sedang sibuk menempelkan stiker kode batang pada tumpukan buku ensiklopedia tebal. Di sudut ruangan dekat rak tua, tampak sesosok bayangan nenek tua berwajah keriput sedang melayang terbalik di langit-langit gedung. Jessieca hanya melirik sekilas dengan pandangan kosong, lalu kembali fokus menempelkan stiker dengan wajah super datar, benar-benar mengabaikan makhluk itu agar tidak merasa diberi panggung untuk mengganggunya lebih jauh.

Mbak Lastri, rekan kerja senior yang hobi berburu diskon belanja daring, berjalan masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebungkus besar keripik singkong pedas.

"Jessieca, kamu tidak mau ikut pesan siomay ikan di depan kantor? Mas-mas penjualnya ganteng sekali lho, mirip dengan artis sinetron yang sering tayang malam-malam di televisi," tawar Mbak Lastri sambil mengunyah keripiknya dengan suara yang cukup berisik.

Lihat selengkapnya